Oleh : Churisa Akana (7015)

Dissociative Amnesia (amnesia disosiatif) sebelumnya disebut amnesia psikogenik, individu tidak mampu untuk mengingat detail personal yang penting dan pengalaman yang sering kali berhubungan dengan kejadian traumatis atau sangat menekan. Memori ini hilang tanpa berhubungan dengan disfungsi otak yang berkaitan dengan kerusakan otak atau obat-obatan, juga buka sebuah kondisi lupa yang umumnya terjadi. Orang-orang yang mengalami amnesia disosiatif sangat umum memberikan gambaran tentang sebuah rentang atau rangkaian dalam ingatan mereka mengenai kejadian bermasalah di masa lalu atau bagian-bagian kehidupan mereka. Amnesia disosiatif jarang terjadi, sejauh ini merupakan hal yan sangat umum dalam gangguan disosiatif. Terdapat sebuah kesepakatan yang telah diperhatikan setelah perang dunia II, ketika banyak individu dengan trauma yang berhubungan dengan pertempuran mengalami amnesia.
Ada empat bentuk amnesia disosiatif, masing-masing berhubungan dengan lingkungan tempat orang kehilangan ingatannya. Localized Amnesia, bentuk yang sangat umum adalah ketika individu lupa akan semua kejadian yang terjadi selama interval waktu tertentu. Biasabya interval waktu ini diikuti dengan cepat oleh kejadian yang sangat mengganggu, seperti kecelakaan mobil, kebakaran atau bencana alam. Selective Amnesia, individu gagal mengingat kembali bebrapa hal, tetapi tidak semua hal, detail kejadian-kejadian yang terjadi selama periode waktu tersebut. Orangorang yang dapat selamat dari kebakaran dapat mengingat saat ambulans mambawanya menuju rumah sakit, namun tidak dapat mengingat saat selamat dari rumah yang terbakar. Generalized Amnesia adalah sebuah sindrom ketika seseorang tidak dapat mengingat semua hal dalam kehidupannya. Continous Amnesia mencakup kegagalan untuk mengingat kembali kejadian khusus dan mencakup waktu saat itu. Sebagai contoh, seorang veteran dapat mengingta masa kanak-kanaknya dan masa mudanya hingga ia masuk dalam militer, namun ia lupa semua hal yang terjadi setelah perjalanan pertamanya dalam tugas pertempuran.
Sangat sulit bagi klinisi untuk mendiagnosis amnesia disosiatif karena banyak kemungkinan lain yang menyebabkan hilangnya ingatan. Sebagai contoh, amnesia dapat disebabkan oleh disfungsi fisik yang menyebabkan luka otak, penyalahgunaan zat psikoaktif atau epilepsy. Pilihan lainnya berupa gangguan psikologis lain dengan gejala yang menyebabkan individu menjadi lupa. Misalnya seseorang yang mengalami katatonik tidak mengkomunikasikan sesuatu saat ditanya, mungkin lupa, mungkin kehilangan beberapa informasi mengenai masa lalunya.
• Karakteristik Diagnostik :
  1. 1. Orang dengan gangguan ini mengalami satu atau lebih episode yang mereka membuat tidak dapat untuk mengingat kembali informasi pribadi yang penting. Biasanya terjadi pada sebuah situasi lingkungan yang traumatis atau penuh tekanan. Secara umum hal ini tampak seperti lupa.
  2. 2. Gangguan ini tidak berlangsung sebagai hasil dari gangguan mental lainnya, penggunaan substansi, atau kondisi pengobatan atau neurologis.
  3. 3. Gejala-gejala ini menyebabkan distress yang signifikan atau kondisi yang lemah.
• Perspektif Biopsikososial
Gangguan-gangguan yang melibatkan disosiasi dianggap sebagai neurosis daripada psikosis. Orang dengan gangguan ini mengalami konflik atau trauma selama hidup mereka dan keadaan-keadaan tersebut menciptakan reaksi emosi yang sangat kuat, sehungga mereka tidak dapat mengintegrasikannya kedalam memory, kepribadian dan konsep diri. Symptom-simptom somatic dan disosiaai ada bukan kehilangan kontak dengan realitas, tetapi perpindahan emosi-emosi ini menjadi kondisi yang kurang menyakitkan untuk diketahui daripada konflik asli atau trauma.
Dengan memperhatikan gangguan disosiatif, para ahli percaya bahwa trauma actual, bukan yang diimajinasikan merupakan sumber symptom amnesia, fugue dan kepribadian ganda. Rendahnya perasaan efikasi diri, kurangnya asertivitas dan gagasan yang salah tentang diri dapat menjadi factor yang berkontribusi terhadap gangguan somatoform dan disosiatif. Sama halnya dengan keyakinan yang salah mengenai diri dan peran diri dalam penhalaman trauma masa lalu tampaknya menjadi factor kognitif yang penting dalam gangguan disosiatif. Menambah komponen psikologis tersebut adalah factor biologis yang berkontribusi terhadap kerentanan individu dalam mengembangkan pikiran yang maladaptive ini atau kerentanan terhadap trauma.
Metode kognitif perilaku dalam meningkatkan perasaan efikasi diri pada individu, asertivitas dan kesadaran akan disfungsi pola piker juga digabungkan dalam suatu pendekatan treatmen yang integral.
• Treatment Amnesia Disosiatif
Gangguan disosiatif merupakan produk akhir dari pengalaman traumatis yang kuat pada masa kanak-kanak, khususnya mencakup penyiksaan atau bentuk lain dari kesalahan penanganan emosi. Walaupun demikian, sebagai tambahan pengalaman kekerasan pasa masa kanak-kanak, beberapa jenis peristiwa traumatis juga dapat menghasilkan pengalaman disosiatif, bebrapa yang bersifat sementara dan beberapa lainnya berakhir dalam jangka waktu yang lama.
Treatment untuk gangguan disosiatif ada bermacam-macam, sebagian besar karena kondisinya juga bervariasi. Tujuan utama dalam memberika treatment terhadap orang dengan symptom-simptom disosiatif adalah dengan membawa kestabilan dan integrasi dalam hidup mereka. Hal yang penting dalam treatment mereka adalah membangun sebuah lingkungan yang aman, jauh dari stressor yang mengancam yang mungkin dapat membangkitkan disosiasi. Pada keamanan dalam konteks treatment, klinisi akan mengenalkan teknik yang menenangkan, beberapa bersifat psikoterapeutik dan yang lain bersifat psikofarmakologis. Beberapa klinisi akan menambah obat dan intervensi, juga dapat membantu meningkatkan kondisi tenang. Obat yang paling umum digunakan adalah sodium pentobarbital dan sodium amobarbital yang memfasilitasi proses wawancara, khususnya pada klien yang mengalami amnesia disosiatif dan fugue disosiatif. Jika amnesianya telah hilang, maka klinisi akan membanti klien menemukan kejadian apa dan factor-faktor apa yang menyebabkan amnesia.
Gangguan disosiatif menyajikan kesempatan unik menghargai kompleksitas pikiran manusia dan variasi cara yang tak biasa ketika beberapa orang merespons pengalaman-pengalaman hidup yang penuh tekanan. Penting untuk mengingat bahwa gangguan amnesia dan fugue sangat jarang terjadi dan sulit untuk diterapi, meskipun penjelasan yang saat ini ada bergantung pada perspektif psikologis.
Contoh Kasus :
Dalam kondisi bingung, Norma mendatangi pusat krisis kesehatan mental, air mata mengalir diwajahnya. “saya tidak tahu dimana saya tinggal atau siapakah saya! Dapatkah seseorang membantu saya?” Tim krisis membantu mencari tasnya, namun tidak menemukan apapun, hanya sebuah foto gadis kecil berambut pirang. Norma tertidur dan menjadi kehabisan tenaga, ia tidur disebuah tempat tidur yang dapat membuatnya tenang. Tim krisis memanggil polisi local untuk mencari apakah terdapat laporan orang hilang. Gadis kecil difoto tersebut adalah putrid Norma. Ia ditabrak sebuah mobil ditempat parkir yang penuh pada sebuah pusat belanja. Walaupun mendapat luka dengan kaki yang patah , gadis tersebut dapat beristirahat dengan nyaman disebuah ruang perawatab di rumah sakit. Ibunya menghilang. Norma muncul dan berkeliling selama beberapa jam. Ia meninggalkan dompet dan kartu identitas lainnya pada pekerja social rumah sakit di kamar darurat. Saat Norma bangun, ia dapat mengingat siapa dirinya dan lingkungan kecelakaan, tapi ia tidak dapat mengingat apa yang telah terjadi.
daftar pustaka :Halgin, P, Richard; Whitbourne, Krauss, Susan. 2009. Abnormal Psychology Clinical Perspective on Psychological Disorder. 6th Edition. Mc.Graw Hill. New York