Rahayu Puji Astuti (9164)


Pengertian

Menurut DSM IV, body dysmorph disorder adalah gangguan mental yang terlalu memperhatikan penampilan. Jika ada sedikit cacat yang muncul, meski orang lain tidak tahu, maka timbul perasaan kekhawatiran yang berlebihan. Untuk mendiagnosa bahwa ini adalah suatu gejala mental atau tidak maka tolak ukurnya adalah apabila perilaku sudah menimbulkan stres secara signifikan atau terganggunya fungsi individu secara sosial.
Sebagian besar kekhawatiran pada orang-orang ini lebih bersifat imajinasi. Pada kesempatan lain, mungkin terdapat abnormalitas pada bentuk tubuh mereka, tetapi kekhawatiran mereka terhadap hal tersebut terlalu dibesar-besarkan.
Di antara individu yang mengalami body dysmorph disorder, pria lebih disibukkan dengan pembentukkan tubuh, alat kelamin, dan penipisan pada rambut mereka (Phillips & Diaz, 1997). Pada edisi terakhir DSM (American Psychiatric Association, 2000) ditambahkan pembentukkan otot dan badan pada daftar hal-hal yang menjadi perhatian. Sedangkan wanita sangat disibukkan perhatiannya dengan kulit, rambut, payudara dan perut mereka.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai bagian-bagian tubuh yang menjadi kekhawatiran orang-orang yang mengalami body dysmorph disorder dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Ciri dan Karakteristik Diagnostik

Ciri-ciri diagnostik :
  • Penderita terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka.
  • Penderita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrim untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan atau membuang semua cermin di rumahnya agar tidak diingatkan akan ‘cacat’ yang mencolok dari penampilan mereka.
  • Penderita bisa sampai melakukan operasi plastik yang tidak dibutuhkan secara berulang kali.
  • Penderita percaya bahwa orang lain memandang diri mereka jelek dan memiliki penampilan fisik yang tidak menarik.
  • Penderita bisa memunculkan perilaku kompulsif dalam rangka mengoreksi kerusakan yang dipersepsikannya.
Karakteristik diagnostik :
  • Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Bahkan, jika ditemukan ada sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut menjadi berlebihan.
  • Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  • Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia).

Epidemiologi
Tingkat body dysmorph disorder pada populasi umum adalah sekitar 1-2%. Salah satu studi psychiatric inpatients menemukan prevalensi body dysmorph disorder 13%. Semua pasien yang memenuhi kriteria untuk body dysmorph disorder dalam penelitian mengidentifikasi gangguan ini sebagai masalah utama. Selanjutnya, penelitian menunjukkan bahwa 9-12% pasien mencari perawatan dermatologi dan 6-15% dari pasien yang meminta operasi kosmetik memiliki kecenderungan menderita body dysmorph disorder.

etiologi
Informasi mengenai etiologi body dysmorph disorder belum dapat diketahui dengan jelas karena tidak adanya informasi yang berarti mengenai faktor-faktor atau kerentanan biologis maupun psikologis yang mempredisposisikannya. Informasi yang didapat tentang etiologi body dysmorph disorder berasal dari pola komorbiditas body dysmorph disorder dengan gangguan lain serta eksplorasi lintas budaya terhadap gangguan tersebut.
  • Faktor biologis
Dari informasi yang ada belum dapat diketahui apakah gangguan ini ada dalam keluarga sehingga tidak dapat ditelisik suatu kontribusi genetik tertentu. Patofisiologi gangguan mungkin melibatkan serotonin dan dapat berhubungan dengan gangguan mental lain.
  • Faktor psikososial
Dalam psikodinamika, body dysmorph disorder mencerminkan pengalihan konflik seksual atau emosional ke dalam bagian tubuh yang tidak berhubungan. Difokuskan pada mekanisme pertahanan yang disebut displacement yaitu bahwa konflik tak sadar yang mendasarinya terlalu mencemaskan untuk diakui dalam kesadaran sehingga orang yang bersangkutan memindahkannya (to displace) ke bagian tubuh tertentu.
Faktor perilaku à Perilaku kompulsi yang diasosiasikan dengan body dysmorph disorder dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kerusakan fisik yang dipersepsikan.
Faktor emosi dan kognitif à salah interpretasi dalam penampilan fisik hingga terlalu disibukkan, bahkan hampir pada titik mengalami delusi dengan gagasan jika tubuh mereka jelek atau cacat.
Orang dengan gangguan ini mengalami konflik atau trauma selama hidup mereka dan keadaan-keadaan tersebut menciptakan reaksi emosi yang kuat sehingga tidak dapat mengintegrasikannya ke dalam memori, kepribadian, dan konsep diri. Kejadian-kejadian yang menekan dapat memicu respons maladaptif mengenai gagasan tentang diri.
  • Faktor sosiokultural
Dari eksplorasi lintas budaya terhadap gangguan-gangguan serupa, orang yang didiagnosis body dysmorph disorder dalam budaya kita mungkin sekadar dianggap memiliki fobia sosial berat di jepang (terkait dengan culture bound - taijin kyofusho dimana individu percaya bahwa mereka, misalnya, memiliki bau nafas atau bau badan yang tidak enak sehingga menghindari interaksi sosial). Jadi, faktanya kecemasan terkait secara fundamental dengan body dysmorph disorder.
Orang dengan body dysmorph disorder dilaporkan memiliki penghasilan dan tingkat mendapatkan pasangan yang rendah serta tingkat pengangguran yang tinggi jika dibandingkan dengan individu yang tidak memenuhi kriteria body dysmorph disorder. Individu dengan body dysmorph disorder juga memiliki tingkat kecenderungan pikiran dan usaha yang tinggi untuk melakukan bunuh diri.

Prevensi
  1. 1. Prevensi primer
Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah kemungkinan munculnya body dysmorph disorder dan mengembangkan kesehatan mental yang positif, misalnya dengan memberikan penyuluhan mengenai self esteem, yaitu:
  • Hargailah diri Anda. Yakinlah bahwa Anda adalah karakter yang unik dan memiliki keistimewaan tersendiri.
  • Kembangkanlah potensi-potensi dalam diri anda. Penampilan fisik bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi penilaian kualitas diri. Intelektual dan kepedulian sosial adalah aset yang jauh lebih berharga daripada penampilan.
  • Cari lingkungan pertemanan yang saling mendukung. Bangun self esteem yang kuat dalam diri anda, sebarkan cinta dan kasih sayang pada sesama. Jangan biarkan kata-kata buruk melukai diri Anda.
  • Happiness is my right and nothing is going to ruin that
  1. 2. Prevensi Sekunder
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak, lama dan berkembangnya masalah agar tidak bertambah parah, misalnya seperti :
  • Early case detection agar dapat memberi kesadaran sedini mungkin bahwa dia memiliki kecenderungan body dysmorph didorder, bahwa ada yang salah dengan pemikirannya, dan jika tetap seperti itu akan berdampak buruk bagi dirinya.
    • Beri dukungan moral, perhatian, dan kasih sayang bahwa dirinya adalah pribadi yang unik dan istimewa.
    • Memberi dorongan agar ia mau mendapat pertolongan dari terapi profesional.
    • Melakukan crisis Intervention, telephone hotline, clinic based, mobile outreach, in-home intervention.
  1. 3. Prevensi tersier
Upaya untuk mengurangi konsekuensi jangka panjang gangguan dan mencegah disabilitas atau ketidakmampuan mental yang dapat menjadi kecacatan permanen dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti:
  • Penanganan biomedis à penggunaan antidepresan dalam menangani body dysmorph disorder, selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) - dengan meningkatkan serotonin dalam otak bisa menghilangkan obsesi-kompulsif pada bagian tubuh.
  • Psychodynamic therapyà terapi psikodinamika atau yang berorientasi terhadap pemahaman dapat ditujukan untuk mengidentifikasi dan mengenali konflik-konflik tidak sadar yang mendasarinya serta pada tujuan insight sebagai kekhawatiran yang direpres mengarah pada simptom.
  • Behavioral therapyà terapi ini berfokus dalam menghadapkan pasien pada situasi yang ditakuti pasien tentang kekhawatiran akan tubuh mereka, menghilangkan kekhawatiran mereka tentang bagian tubuh mereka, dan mencegah respon yang kompulsif terhadap bagian tubuh tertentu.
  • Cognitive-behavior therapy à terapi berfokus memperbaiki perkembangan keterampilan coping untuk mengatasi stres dan memperbaiki keyakinan yang berlebihan atau terdistorsi mengenai penampilan seseorang. Terapi ini juga meningkatkan perasaan efikasi diri pada individu, asertivitas, dan kesadaran akan disfungsi pola pikir.
Contoh Kasus

Tokoh: Michael Jackson
Michael Joseph Jackson lahir pada tanggal 29 Agustus 1958 di Gary, Indiana, sebuah daerah industri di pinggiran Chicago. Ia adalah keturunan seorang Afrika-Amerika dari Joseph Walter "Joe" Jackson dan Katherine Esther Scruse. Ia adalah anak ke-7 dari 9 bersaudara. Saudaranya antara lain Rebbie, Jackie, Tito, Jermaine, La Toya, Marlon, Randy, dan Janet.Joseph Jackson pernah bermain di sebuah band R&B bernama The Falcons, bersama saudaranya Luther sehingga kepada Michael Jacksonlah ayahnya bertekad ingin menurunkan bakatnya.
Jackson pernah menyatakan bahwa sejak kecil ia mengalami kekerasan dari ayahnya, baik secara fisik maupun mental, seperti latihan yang tak henti-henti, cambuk, dan memanggilnya dengan panggilan kasar. Namun demikian, ia juga mengakui bahwa kedisiplinan yang diterapkan ayahnya membawa pengaruh besar bagi kesuksesannya. Marlon Jackson menceritakan, pernah dalam suatu perselisihan, Michael diangkat terbalik kemudian dipukuli di punggung dan pantatnya. Pernah pula di suatu malam, ketika Michael sedang tidur, Joseph memanjat dari kamarnya ke pintu kamar Jackson. Dengan mengenakan topeng menakutkan, ia masuk ke kamar, berteriak keras menakut-nakuti Michael.
Joseph mengatakan bahwa ia melakukan itu untuk mengajarkan anak-anaknya agar tidak membiarkan jendela kamar terbuka ketika tidur dan apabila Michael sedang di kamar mandi dalam keadaan pintu yang tidak ditutup, maka Michael dipukul oleh ayahnya dan ditakut-takuti. Selama bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, Michael sering mengalami mimpi ia diculik dari kamarnya. Pada tahun 2003, Joseph mengakui pernah mencambuk Michael ketika ia masih kecil.
Michael Jackson adalah contoh nyata orang yang masa kecilnya tidak bahagia. Semua masalah yang dihadapi di usia dewasanya bermula dari ketidakbahagiaannya di masa kecil. Tak hanya saat berlatih sang ayah menampar dan mencambuknya, namun juga saat akan naik panggung. Barangkali sang ayah menganggap bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk kesuksesan anak-anaknya. Namun yang terjadi adalah luka batin yang tak tersembuhkan.
Kekerasan verbal baik hinaan maupun kata-kata yang mengancam tak kalah menimbulkan luka mental. Sebutan big nose (hidung besar) membuatnya di kemudian hari sering mengubah penampilan melalui operasi plastik hingga berkali-kali.
Sejak usia lima tahun, waktu Michael Jackson habis untuk berlatih dan tampil di berbagai pertunjukkan. Hal ini membuatnya benar-benar kehilangan keindahan masa kecilnya. “Saya suka dengan pertunjukkan, tapi ada saatnya saya hanya ingin bermain.” Demikian pengakuan Jacko sapaan akrab Michael Jackson dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey. “Saya tidak pernah punya masa kecil yang normal.”
Karena itu, saat dewasa, ia mencoba menciptakan apapun yang tak pernah didapatnya di masa kecil. Ia membangun istana di Ranch Neverland pada bulan Maret tahun 1988, suatu tempat impian yang umumnya ada dalam benak anak-anak. 'Negeri' impian Michael Jackson itu menyediakan kebun binatang, roller coaster, komedi putar, bianglala, kereta api, dll. Michael juga menyatakan bahwa dirinya ingin seperti tokoh Peter Pan.
Dalam kasus Michael Jackson ini, dapat dilihat bahwa sejak kecil King of Pop ini cenderung mendapatkan siksaan baik fisik maupun verbal dari sang ayah. Kekerasan verbal berupa hinaan maupun kata-kata yang mengancam menimbulkan luka mental. Kondisi ini yang kemudian membuatnya terobsesi dengan cosmetic surgery sebagai ekspresi dari defence mechanism atas kecemasan dan ketidakpuasan akan relasi sosialnya semasa kecil.


Daftar Pustaka

Durand, V Mark., David H Barlow. 2006. Essentials of Abnormal Psychology Sixth Edition. Wadsworth Pub Co 4.
Halgin, Richard P., Susan Krauss Whitbourne. 2010. Abnormal Psychology: Clinical Perspectives on Psychological Disorders. Mc Graw Hill.
Nevid, Jeffrey S., Spencer A Rathus and Beverly Greene. 2003. Abnormal Psychology in Changing World Fifth Edition. Prentice Hall 5.