Novia Nurfitriana (9140)
bulimia.jpg
Karakteristik Diagnostic (DSM-IV-TR)
Orang dengan Bulimia Nervosa akan mengalami :
  • Episode berulang dari makan berlebihan seperti yang ditunjukan oleh kedua hal berikut :
  1. a. Memakan makanan dalam jumlah yang sangat banyak dalam periode 2 jam.
  2. b. Merasa kehilangan kontrol terhadap pemasukan makanan pada saat episode tersebut.
  • Perilaku tidak sesuai yang sering terjadi untuk menjaga agar berat tubuh tidak bertambah seperti membangkitkan rasa ingin muntah, penyalahgunaan obat pencahar, diuretic, atau dengan berpuasa, atau melakukan latihan yang berlebihan.
  • Rata-rata minimal dalam seminggu terjadi dua kali episode makan berlebihan (pesta makan) dan perilaku kompensasi yang tidak sesuai untuk menghindari bertambahnya berat badan, dan hal ini terjadi minimal selama 3 bulan.
  • Perhatian berlebihan yang terus-menerus pada bentuk dan berat badan.
Terdapat satu perbedan mencolok antara Bulimia Nervosa dengan Anoreksia Nervosa, yaitu adalah penurunan berat badan. Pasien yang menderita Anoreksia nervosa mengalami penurunan berat badan yang secara drastic, sedangkan pasien Bulimia nervosa tidak.
Pada Bulimia, makan berlebihan biasanya dilakukan secara diam-diam, dapat dipicu oleh stress dan berbagai emosi negatif yang ditimbulkannya, dan terus berlangsung hingga orang yang bersangkutan merasa sangat kekenyangan. Orang dengan Bulimia nervosa akan hilang kendali ketika makan berlebihan, bahkan hingga ke titik mengalami sesuatu yang mirip dengan keadaan dissosiatif, mungkin kehilangan kesadaran terhadap apa yang mereka lakukan dan merasa bahwa bukan diri mereka yang makan berlebihan. Mereka biasanya malu dengan kondisi tersebut dan mencoba menutupinya.
Setelah selesai makan berlebihan, rasa jijik, rasa tidak nyaman, dan takut bila berat badan bertambah memicu tahap kedua Bulimia nervosa, pengurasan untuk menghilangkan efek asupan kalori karena telah makan berlebihan. Paling sering pasien memasukkan jari-jari mereka ke tenggorokan agar tersedak dan muntah. Penyalahgunaan obat-obat pencahar dan diuretic serta berpuasa dan olahraga berlebihan juga dilakukan untuk mencegah penambahan berat badan.
Seperti halnya pada Anoreksia, terdapat dua subtipe Bulimia nervosa, yaitu :
  1. 1. Tipe Purging : sengaja melakukan perbuatan mengeluarkan makanan atau sisa-sisa makanan, dengan cara merangsang muntah dan menggunakan obat pencahar.
  2. 2. Tipe Non-purging : dengan sengaja melakukan perbuatan berlebihan untuk mengkompensasi makanan yang berlebihan. Misalnya dengan olahraga mati-matian sampai pingsan, atau puasa sampai sakit maag/pingsan. Dalam beberapa studi, orang-orang Bulimia dengan tipe nonpurging memliki berat badan lebih besar, lebih jarang makan berlebihan, dan menunjukkan lebih sedikit psikopatologi dibandingkan dengan orang-orang Bulimia tipe purging.
Bulimia nervosa biasanya terjadi pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Sekitar 90 persen kasus terjadi pada perempuan, dan prevalensi pada perempuan diperkirakan sekitar 1 hingga 2 persen dari populasi. Banyak pasien Bulimia nervosa kelebihan berat badan sebelum onset gangguan tersebut, dan makan berlebihan sering kali dimulai saat menjalani diet. Bulimia nervosa dikaitkan dengan sejumlah diagnosis lain, terutama depresi, gangguan kepribadian borderline, gangguan anxietas, penyalahgunaan zat, dan gangguan tingkah laku.
Perubahan fisik dalam Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa terkait dengan beberapa efek samping pada fisik. Walaupun lebih sedikit dibandingkan dengan Anoreksia, yaitu menstruasi tidak teratur, termasuk amenorea. Hal itu dapat terjadi meskipun pasien Bulimia memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) yang normal. Selain itu, seringnya purging dapat menyebabkan kekurangan potassium. Penggunaan obat pencahar secara berlebihan menyebabkan diare, yang juga dapat menyebabkan perubahan elektroloit dan menyebabkan denyut jantung menjadi tidak tertatur. Muntah secara terus-menerus dapat dihubungkan dengan masalah mestruasi dan rusaknya jaringan lambung dan tenggorokan, serta hilangnya enamel gigi karena asam lambung dapat merusak gigi. Bulimia nervosa, seperti halnya Anoreksia, merupakan gangguan serius yang mengandung konsekuensi fisik yang merugikan. Meskipun resiko kematian jauh lebih sedikit pada Bulimia dibandingkan Anoreksia.
Prognosis
Pemantauan jangka panjang pada para pasien Bulimia nervosa mengungkap bahwa 70 persen memperoleh kesembuhan, meskipun sekitar 10 persen tetap sepenuhnya somatik. Melakukan intervensi segera setelah diagnosis ditegakkan berhubungan dengan prognosis yang lebih baik. Para pasien Bulimia nervosa yang lebih sering makan berlebihan dan muntah, komorbid dengan penyalahgunaan zat, atau memiliki riwayat depresi memiliki prognosis lebih buruk disbanding pasien tanpa fakto-faktor tersebut.
Etiologi
Perspektif Biologis
Genetik bulimia nervosa dapat terjadi dalam satu keluarga. Pada Bulimia nervosa ditemukan, di mana saudara kandung dari perempuan yang menderita Bulimia nervosa memiliki kemungkinan sekitar empat kali lebih besar disbanding rata-rata untuk menderita gangguan tersebut. Studi terhadap saudara kembar terkait gangguan makan juga menunjukkan pengaruh genetik. Sebagian besar studi mengenai Bulimia dan Anoreksia menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar.
Gen memiliki pengaruh yang lebih besar pada orang-orang kembar yang menderita gangguan makan dibandingkan dengan faktor-faktor lingkungan. Penelitian juga menunjukkan bahwa cirri penting gangguan makan, seperti ketidakpuasan atas bentuk tubuh, keinginan yang kuat untuk menjadi langsing, makan berlebihan dan preokupasi dengan berat badan dapat diturunkan dalam keluarga. Faktor-faktor genetic yang umum dapat berperan dalam hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu, seperti emosionalitas negatif dan gangguan makan.
Faktor Keluarga
Gangguan makan sering kali berkembang dari adanya konflik dalam keluarga. beberapa terori berfokus pada efek brutal dari self awareness terhadap orang tua. Mereka mengatakan bahwa beberapa remaja menggunakan penolakan untuk makan sebagai cara menghukum orang tua mereka karena perasaan kesepian dan keterasingan yang mereka rasakan di rumah. Sebuah studi membandingkan ibu dari remaja putri dengan gangguan makan dan ibu dari remaja putri lainnya. Ibu dari remaja putri dengan gangguan makan lebih tidak bahagia terhadap fungsi keluarganya, juga meilimiki masalah makan dan diet, dan percaya bahwa putrinya harus menurunkan beratbadan, sertamemandang putrinya sebagai orang yang tidak menarik. Keluarga dari wanita muda dengan gangguan makan cenderung lebih sering mengalami konflik kurang memiliki kedekatan dan kurang saling memberi dukungan, namun lebih bersikap kritris. Orang tua terlihat kurang mampu untuk membangkitkan kemandirian dalam diri anak perempuan mereka.
Konflik dengan orang tua mengenai isu otonimi sering kali mengakibatkan munculnya Buimia dan Anoreksia nervosa. Namun belum pasti apakah keluarga dengan pola seperti ini berkontribusi pada kemunculan awal gangguan makan atau apakah gangguan makan yang muncul mengganggu kehidupan keluarga. Tanpa memperhatikan faktor yang memicu munculnya gangguan makan, dukungan sosial bisa menjadi salah satu faktor yang mempertahankan keberadaan gangguan makan. anak-anak dengan gangguan makan dapat secara cepat menjadi pusat perhatian pada keluarga mereka, dan menerima perhatian dari orang tua yang mungkin sebelumnya kurang.
Perspektif Sosiokultural
Berbagai standar telah ditetapkan masyarakat mengenai tubuh yang ideal, terutama tubuh perempuan ideal yang sangat bervariasi. Dahulu standar modern para perempuan bertubuh gemuk, namun pada masa-masa sekarang ini standar ideal dalam budaya Amerika bergerak ke arah lebih langsing lagi. Contohnya para model majalah mode dunia yang memiliki tubuh tinggi dan langsing bahkan cenderung kurus dimulai pada tahun 1950 dan 1978. Dan para peserta kontes kecantikan juga semakin langsing sejak tahun 1980an.
Secara cukup paradoksikal, sementara standar budaya bergerak ke arah tubuh yang kurus selama paruh waktu akhir abad ke-20, semakin banyak orang yang mengalami kelebihan berat badan. Prevalensi obesitas meningkat dua kali lipat sejak tahun 1900. Sekarang ini, 20-30 persen penduduk Amerika mengalami kelebihan berat badan, mungkin karena terlalu banyaknya makanan dan gaya hidup yang tidak aktif, dan menjadi awal tahap kobflik yang semakin besar antara bentuk tubuh ideal dan realitas berdasarkan budaya.
Para perempuan yang memang benar-benar kelebihan berat badan atau hanya takut menjadi gemuk mungkin juga merasa tidak puas dengan tubuh mereka. Maka dari itu, berbagai studi menemukan bahwa IMT tinggi dan ketidakpuasan dengan bentuk tubuh merupakan factor resiko terjadinya gangguan makan. Ketidakpuasan akan bentuk tubuh tampaknya semakin meningkat dan merupakan predictor kuat perkembangan gangguan makan di kalangan remaja perempuan. Selain itu, preokupasi, untuk menjadi kurus atau merasa ditekan untuk menjadi kurus memprediksi meningkatnya ketidakpuasan dengan bentuk tubuh di kalangan remaja perempuan, yang pada akhirnya memprediksi diet yang lebih sering dan timbulnya berbagai emosi negatif.
Tubuh kurus yang ideal berdasarkan standar sosiokultural kemungkinan merupakan sarana yang membuat orang-orang mempelajari rasa takut menjadi gemuk atau bahkan merasa gemuk. Selain menciptakan bentuk tubuh yang tidak diinginkan, menjadi gemuk memiliki berbagai konotasi negatif, seperti ketidaksuksesan dan kurang memiliki control diri. Orang lain memandang obese sebagai orang-orang yang kurang cerdas dan dicap sebagai orang yang kesepian, pemalu, dan haus kasih sayang. Dengan demikian, perempuan mungkin merasa malu dengan tubuh mereka bila melihat ketidakcocokan antara standar ideal individu sedikit berbeda dari standar ideal diri mereka dan penilaian budaya (yang diobjektivikasi) tentang perempuan. Hal ini menunjukkan pengobjektivikasian diri sendiri dan rasa malu tentang bentuk tubuh terkait dengan gangguan makan.
Perspektif Psikologis
Berdasarkan perspektif psikologis, gangguan makan banyak terjadi pada individu usia muda yang menderita pergolakan batin dan rasa sakit serta menjadi terobsesi dengan permasalahan tubuh, sering kali berpaling pada makanan untuk merasa nyaman dan tenang. Individu dengan gangguan makan sering kali merasa kesulitan dalam memahami dan memberikan label terhadap emosi yang mereka rasakan, dan seiring dengan berjalannya waktu, mereka belajar bahwa makan dapat menjadi jalan dalam menangani perasaan yang tidak nyaman dan emosi yang tidak jelas.
Dalam memahami perkembangan respons gangguan makan terhadap rasa sakit yang terjadi dalam diri individu, ppara peneliti memiliki ketertarikan terutama dengan adanya fakta bahwa beberapa perampuan dengan Bulimia nervosa memiliki riwayat pernah mengalami pelecehan seksual atau kekerasan fisik pada masa kanak-kanak. Para peneliti yang meneliti hubungan antara pengalaman disakiti pada masa kanak-kanak dan perilaku menyakiti diri sendiri pada kehidupan yang akan dating mulai memahami adanya kemungkinan hubungan biokimia antara pelecehan saat masa kanak-kanak dan gangguan makan. Keduanya menunjukkan adanya gangguan pada serotinin, tetapi pelecehan huga berakibat pada penurunan kortisol, yaitu hormon stres.
Menurut perspektif psikologis, faktor kognitif dapat menjelaskan secara signifikan perilaku gangguan makan. Menurut teori kognitif, dari waktu ke waktu, individu yang menalami gangguan makan terjebak dalam pola patologisnya karena adanya kekuatan untuk melawan perubahan yang pada umumnya menjadi ciri khas dari proses berpikir mereka. Mereka menghindari masalah, bukannya menyelesaikan masalah. Mereka melarikan diri ke dalam khayalan daripada menilai masalah secara realistis dan mereka cenderung untuk tidak mencari dukungan sosial meskipun mereka berada dalam permasalahan yang serius. baik untuk anak laki-laki maupun perempuan, pengaruh negati juga memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan antara kepedulian terhadap ukuran tubuh dan perilaku Bulimia. Pengejaran dalam mencari kenyamanan emosional melalui makan dapat dilihat sebagai ekspresi keputusan dari perasaan dependensi terhadap orang tua individu yang belum menemukan penyelesaian.
Trait kepribadian dependensi yang muncul bersamaan dengan Obsesi menunjukkan adanya kedekatan hubungan dengan simtom Bulimia. Sejalan dengan pendekatan teoritis, wanita dengan gangguan makan memiliki perasaan tidak aman, kelekatan jenis ambivalen bersamaan dengan banyaknya simtom gangguan kecemasan akan perpisahan dengan masa kanak-kanak. Di antara wanita dengan Bulimia nervosa yang mengalami gangguan kepribadian, gangguan kepribadian borderline adalah gangguan yang paling umum terjadi. Tampaknya orang dengan gangguan makan yang berada dalam subkelompok tertentu mengalami kesulitan yang fundamental dalam perkembangan identitas mereka.
Pandangan Psikodinamika
Teori Psikodinamika sebagian besar berpendapat bahwa penyebab utamanya terdapat dalam hubungan orang tua-anak yang terganggu dan sepekat bahwa beberapa karakteristik kepribadian penting, seperti harga diri yang rendah dan perfeksionisme, ditemukan pada individu yang memiliki gangguan makan. Berbagai teori psikodinamika juga menyatakan bahwa simtom-simtom gangguan makan menjadi suatu pemenuhan bagi keberhasilan mempertahankan diet ketat atau tidak tumbuh secara seksual dengan menjadi sangat kurus sehingga tidak mencapai tubuh seorang perempuan pada umumnya.
Teori psikodinamika lain, menyatakan bahwa Bulimia nervosa pada perempuan berakar dari kegagalan untuk mengembangkan kesadaran diri yang kuat karena hubungan ibu-anak yang dipenuhi konflik. Makanan menjadi symbol kegagalan hubungat tersebut. Makan berlebihan dan pengurasan yang dilakukan si anak mencerminkan konflik antara kebutuhan akan ibu dan keinginan untuk meolak ibu.
Pandangan Kognitif-Perilaku
Para penderita Bulimia nervosa juga dianggap memiliki kekhawatiran berlebihan dengan penambahan berat bandan dan penampilan tubuh. Pasien Bulimia nervosa memang menilai diri mereka terutama berdasarkan berat badan dan bentuk tubuh mereka. Mereka juga memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan karena berat badan serta bentuk tubuh cukup lebih mudah dikendalikan disbanding aspek diri yang lain, mereka cenderung memfokuskan pasa berat badan dan bentuk tubuh, dan berharap bahwa usaha mereka dalam bidang ini akan membuat mereka secara umum merasa lebih baik. Mereka mencoba mengikuti pola makan terbatas yang sangat kaku, dengan aturan ketat mengenai jumlah asupan makanan, jenis makanan yang dimakan dan kapan harus makan. Aturan ketat tersebut pada akhirnya dilanggar, dan pelanggaran tersebut meningkat menjadi makan berlebihan. Setelah makan berlebihan, timbul perasaan jijik dan rasa takut menjadi gemuk, sehingga memicu tindakan kompensatori seperti muntah. Meskipun pengurasan untuk sementara mengurangi kecemasan karena telah makan berlebihan, yang memicu makan berlebihan dan pengurasan yang semakin sering, suatu siklus yang mempertahankan berat badan yang dikehendaki, namun mengandung berbagai konsekuensi medis. Ditemukan beberapa kondisi lain yang semakin meningkatkan banyaknya asupan makanan pada orang-orang yang melakukan pembatasan makanan setelah asupan awal, yang perlu dicatat adalah beragam mood negatif, seperti kecemasan dan depresi.
Meningkatnya konsumsi makanan pada orang-orang yang membatasi asupan makanannya terutama terjadi ketika citra diri mereka terancam dan jika mereka memiliki harga diri rendah. Apabila orang-orang yang membatasi asupan makanannya mendapatkan umpan balik yang salah bahwa mereka memiliki berat badan tinggi, mereka merespons dengan peningkatan emosi negatif dan peningkatan kinsumsi makanan.
Pasien Bulimia nervosa umumnya makan berlebihan bila menghadapi stres dan mengalami afek negatif. Sehingga makan berlebihan berfungsi sebagai alat mengendalikan afek negatif. Pasien Bulimia mengatakan meningkatnya kadar kecemasan mereka ketika mereka makan, naum tidak dapat melakukan pengurasan dan penuturan diri tersebut telah divalidasi melalui pengukuran fisiologis, seperti konduktans kulit. Secara sama , kadar kecemasan menurun setelah pengurasan, sekali lagi memperkuat pemikiran bahwa pengurasan diperkuat oleh berkurangnya kecemasan.
Prevalensi
  • Pengaruh Gender
Banyak fakta menunjukan bahwa gangguan makan lebih umum terjadi pada perempuan disbanding pada laki-laki. Salah satu alasan utama atas prevalensi gangguan makan yang lebih besar pada perempuan kemungkinan adalah fakta bahwa standar budaya masyarakat Barat menguatkan keinginan untuk menjadi kurus pada perempuan disbanding laki-laki. Selain itu, nilai-nilai sosiokultural mendorong objektivikasi tubuh perempuan, sedangkan kaum laki-laki lebih dihargai berdasarkan berbagai keberhasilan mereka. Resiko gangguan makan pada kelompok perempuan yang sangat peduli terhadap berat badan, misalnya para penari, model, dan pesenam sangat tinggi.
  • Berbagai Studi Lintas Budaya
Gangguan makan lebih banyak terjadi dalam masyarakat industry, seperti Amerika, Kanada, Jepang, Australia, dan Eropa, disbanding dalam masyarakat nonindustri. dalam suatu epidemologis, kasus Bulimia nervosa meningkat empat kali lipat dari tahun 1950-an hingga tahun 1970-an. Selain itu, seiring dengan masyarakat mengalami berbagai praktik budaya Barat, kasus gangguan makan tampak mengalami peningkatan. Dari berbagai studi menunjukan bahwa bila perempuan yang berasal dari masyarakat dengan tingkat prevalensi gangguan makan yang rendah berubah menjadi masyarakat dengan tingkat prevalensi tinggi, maka prevalensi mengalami kenaikan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh penekanan yang lebih besar pada tubuh yang langsing dan citra tubuh di mayarakat Barat. Namun, dibeberapa budaya yang berbeda seperti Afrika, berat badan yang lebih besar pada perempuan sangat dihargai dan dianggap sebagai lambing kesuburan dan kesehatan. Perbedaan besar dalam prevalensi gangguan makan di antara berbagai budaya memberikan suatu gambaran tentang pentingnya budaya dalam menetapkan pandangan realistik versus pandangan yang secara potensial menyimpang tentang bentuk tubuh. Dengan demikian, variasi antarberbagai budaya dalam prevalensi gangguan makan tetap merupakan suatu pendapat yang kontra.
Prevensi
Komplikasi medis dalam Bulimia nervosa maupun Anoreksia nervosa seperti ketidakseimbangan elektrolit, juga memerlukan penanganan, jadi pada Bulimia dan Anoreksia diberikan penanganan biologis dan psikologis.
  • Penanganan Biologis
Karena Bulimia nervosa sering kali komorbid dengan depresi, ganguan ini ditangani dengan berbagai antidepresan. Minat difokuskan pada fluoksetin. Perempuan dengan Bulimia ditangani sebagai pasien rawat jalan selama delapan minggu. Fluoksetin ternyata lebih memberikan hasil dibandingkan placebo untuk mengurangi makan berlebihan dan muntah, juga mengurangi depresi dan sikap yang menyimpang terhadap makanan dan makan. Dalam sebagian besar studi termasuk studi double-blind dengan kelompok control placebo, mengkonfirmasi kemampuan berbagai macam antidepresan untuk mengurangi pengurasan dan makan berlebihan, bahkan di kalangan pasien yang tidak mengalami perbaikan dlaam penanganan psikologis yang diberikan sebelumnya.
Dalam studi multisentral tentang fluoksetin, hampir sepertiga pasien berhenti sebelum akhir masa penanganan yang berlangsung selama delapan minggu, teruatama disebabkan efek samping obat-obatan yang diberikan. Bandingkan dengan angka kurang dari lima persen pasien yang berhenti dari terapi kognitif-behavioral. Terlebih lagi, sebagian besar pasien kambuh ketika pemberian berbagai jenis obat antidepresan dihentikan, seperti yang terjadi dengan sebagian besar obat-obatan psikoaktif. Terdapat beberapa kecenderungan untuk kambuh tersebut berkurang bila antidepresan diberikan dalam konteks terapi kognitif-behavioral.
  • Penanganan Psikologis Bulimia Nervosa
Psikoterapi Kognitif-Behavioral Therapy (CBT) harus dianggap sebagai, patokan lini pertama pengobatan untuk bulimia nervosa. Data pendukung efektivitas CBT didasarkan pada kepatuhan yang ketat dan harus betul-betul dilaksanakan dengan sangat rinci, petunjuk-dipandu perawatan yang mencakup sekitar 18 sampai 20 sesi selama 5 sampai 6 bulan. CBTmenerapkan sejumlah prosedur kognitif dan perilaku untuk (1) mengganggu siklus mempertahankan diri perilaku makan berlebihan dan diet dan (2) mengubah kognisidisi fungsional individu, yaitu keyakinan tentang makanan, berat badan, citra tubuh, dan keseluruhan konsep diri.
Dynamic Psikoterapi (Pengobatan psikodinamik) pasien dengan bulimia nervosa telah mengungkapkan kecenderungan untuk mengkonkretkan mekanisme pertahanan introjective dan proyektif.Dengan cara yang analog dengan membelah, pasien membagi makanan ke dalam dua kategori: item yang bergizi dan mereka yang tidak sehat. Makanan yang ditunjuk bergizi dapat dicerna dan dipertahankan karena secara tidak sadar melambangkan introjects baik. Tapi junk food secara tidak sadar berhubungan dengan introjects buruk dan oleh karena itu, dikeluarkan melalui muntah, dengan sadar bahwa semua fantasi merusak, kebencian, dan kejahatan sedang dievakuasi. Pasien sementara dapat merasa nyaman setelah muntah karena evakuasi fantasi, tapi perasaan yang terkait menjadi baik adalah singkat karena didasarkan pada kombinasi tidak stabil. Tabel 23,2-2 DSM-IV-TR Kriteria Diagnostik Gangguan Makan Not Otherwise Specified Gangguan makan tidak ditentukan kategori untuk gangguan makan yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan makan tertentu. Contoh termasuk:
  1. 1. Untuk perempuan, semua kriteria untuk anoreksia nervosa terpenuhi kecuali bahwaindividu memiliki siklus haid yang normal.
  2. 2. Semua kriteria untuk anoreksia nervosa terpenuhi kecuali bahwa, meskipun penurunan berat badan yang signifikan, berat saat individu berada dalam rentang normal.
  3. 3. Semua kriteria untuk bulimia nervosa terpenuhi kecuali bahwa pesta makan dan mekanisme kompensasi yang tidak tepat terjadi pada frekuensi kurang dari dua kali seminggu atau untuk durasi kurang dari 3 bulan.
  4. 4. Penggunaan secara teratur perilaku kompensasi yang tidak tepat oleh individu berat badan normal setelah makan sejumlah kecil makanan (misalnya, self-induced muntah setelah mengkonsumsi dua kue).
  5. 5. Berulang kali mengunyah dan meludah keluar, namun tidak menelan sejumlah besar makanan.
  6. 6. Pesta-gangguan makan: episode berulang pesta makan dengan tidak adanya penggunaan rutin perilaku kompensasi yang tidak tepat karakteristik bulimia nervosa.
  • Prevensi primer
Ditujukan pada populasi yang berisiko tinggi seperti murid SMP perempuan untuk mencegah timbulnya gangguan makan pada mereka yang asimtomatik. Sejumlah program pendidikan dapat dicoba berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan dapat mengubah sikap dan perilaku, program tersebut ditekankan pada pemahaman tentang citra diri.
  • Prevensi sekunder
Bertujuan untuk deteksi dan intervensi dini, dengan memberikan pendidikan pada petugas kesehatan di pusat pelayanan kesehatan primer. Dengan intervensi dini morbiditas dapat diturunkan.
Pada perspektif sosiokultural, intervensi yang melibatkan komponen keluarga digunakan pada klien remaja dengan gangguan makan dan berada dalam kondisi tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Beberapa jenis terspis menemukan jika kelompok terapi multikeluarga berfungsi secara efektif terutama dalam menangani gangguan makan. pada terapi jenis tersebut, beberapa keluarga berpartisipasi dalam sesi kelompok secara simultan. Salah satu faktor positif dari intervensi tersebut adalah penurunan perasaan yang menyebabkan stigma dan isolasi yang muncul saat salah satu anggota keluarga menderita gangguan makan.
Kesimpulannya, gangguan makan adalah suatu kondisi yang di dalamnya terdapat interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosiokultural. tidak seperti beberapa gangguan lainnya hanya satu faktor saja yang menjadi dasar terjadinya gangguan, gangguan makan tampaknya muncul sebagai akibat dari konflik interpersoanal dan intrapersonal. Pengaruh interpersonal, khususnya berasal dari sistem keluarga dan hubungan dengan teman sebaya, membangkitkan perhatian yang berlebihan terhadap citra tubuh dan daya tarik.
Distrorsi persepsi diri dan gangguan pola pikir menambah permasalahan yang sudah ada, dan sejalan dengan waktu, perubahan tubuh menjadi gambaran keseluruhan masalah. Intervensi pendekatan biopsikososial menghubungkan teknik dari ketiga perspektif.
Pada perspektif biologis treatmen mungkin dapat melibatkan penggunaan obat-obatan, tetapi cara tersebut tidak harus selalu digunakan. Komponen medis yang paling penting adalah yang memfokuskan pada fungsi tubuh dan perilaku makan yang sehat. Teknik psikologis yang paling efektif adalah yang sasarannya pada pola pikir dan persepsi yang terdistorsi. Komponen sosiokultural dapat melibatkan keluarga atau terapi kelompok. Intervensi yang kuat terutama pada tahap awal gangguan makan dapat mengubah arah gangguan yang secara potensial dapat merusak.
Contoh Kasus
Demi Lovato adalah seorang aktris dan penyanyi muda berkebangsaan Amerika Serikat yang juga berdarah Mexico dan Italia dari orang tuanya. Dia bermain di beberapa film disney seperti Camp Rock dan Sonny With A Chance. Dia mulai berkarier di dunia hiburan sejak tahun 2002 lewat perannya sebagai Angela di Barney & Friends.
Demi Lovato is not happy at all. Pada tahun 2010, Demi menghentikan konser internasionalnya bersama Jonas Brothers dan juga berhenti dari perannya sebagai pemeran utama dalam “Sonny with a Chance” di Disney Chanel series yang sangat populer dikalangan remaja. Pada saat itu, para pengamat Hollywood dibuat bingung setengah mati oleh artis cantik ini, karena di tengah popularitasnya yang sedang menanjak, Demi malah mengambil langkah yang dapat menghancurkan kariernya. Alasan mengapa Demi melakukan langkah kontroversial itu adalah karena Demi mengalami apa yang disebutnya sebagai “physical and emotional issue” yang belakangan diketahui berupa depresi dan bulimia. Karena itu, ia mencoba untuk menyembuhkan diri dengan tinggal di tempat rehabilitasi selama tiga bulan.
Semua berawal dari kelas 7th Grade, setara dengan kelas 2 SMP di Indonesia, Demi Lovato di-bully oleh teman-teman sekolahnya. Ia yang saat itu masih kanak-kanak dan innocent diledek sebagai: “Cewe Gemuk” oleh tidak hanya satu, tapi banyak teman yang menyebutnya demikian. Memang itu hanya dua kata yang sederhana, tapi siapa sangka dua kata tersebut terekam kuat di otak Demi, bahkan mempengaruhi hidupnya sampai sekarang. Sejak usia 12 tahun, Demi membenci tubuhnya. Ia menjadi seorang penderita eating disorder yang semakin lama semakin berkembang menjadi bulimia. Bagi yang belum tahu, Bulimia adalah gangguan pola makan yang serius, dimana seseorang makan makanan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat dan kemudian dia membersihkan diri dari makanan tersebut dengan cara memuntahkan kembali makanan tersebut atau dengan menelan obat pencahar. Hal ini diakibatkan oleh keinginan kuatnya untuk menjadi kurus.
Dengan menjadi artis, tidak membuat hidup Demi lebih baik, bahkan sebaliknya. Ia semakin kehilangan kepercayaan diri dan malu akan tubuh yang menurutnya ‘gemuk’ tersebut. Pola pikir ini membuat Demi mengadakan konser dalam keadaan lapar, kehilangan suara karena muntah, dan dalam keadaan paling buruk, ia muntah lima kali dalam sehari. “it was just blood in the toilet“ ujar Demi. Demi pun merasa risih dengan papparazi yang selalu ada di sekitarnya. Bahkan Demi merasa depresi apabila papparazi tersebut mengambil fotonya dengan angel yang buruk, sehingga ia kelihatan lebih gemuk. Depresi ini mengantarkan Demi untuk mulai berkenalan dengan alkohol dan mulai menyayat-nyayat tangannya dengan benda tajam. Menurut Demi, ini adalah cara untuk keluar dari kecemasan dan depresi yang dialaminya. “It was a way of expressing my own shame, of myself, on my own body” kata Demi.
Walaupun ia telah menjadi artis, dipuja akan kecantikannya, bahkan jutaan wanita ingin menjadi seperti dirinya, namun tetap saja pengalaman di-bully oleh teman-teman sekolah menghantui hidupnya. Meskipun saat ini Demi telah menyelesaikan program rehabilitasi, Demi mengakui bahwa ia masih berusaha keras untuk sembuh dari bulimia dan depresi yang dialaminya.
Sumber Buku:
  • David H. Barlow, V Mark Durrand: Abnormal Psychology an integrative Approach. Sixth edition
  • Gerald C. Davidson, John m. Neale, Ann M. King: Abnormal Psychology. Ninth edition
  • Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene: Abnormal Psychology in a Changing world fifth edition New Jersey Prentice-Hall 1997
  • Ricahard P Halgin, Susan Krauss Whitbourne. 2010 : Abnormal Psychology Clinical Perspectives on Psychology disorders. Mc Graw Hill
Sumber kasus : http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/10/25/akibat-bullying-di-sekolah-kisah-demi-lovato-bulimia