Edo Prasatio Grahatama (9131)conduct.jpg

  1. A. Definisi dan Ciri-Ciri Kriteria Diagnostik
Merupakan gangguan utama lain dalam kelompok gangguan ekstranalisasi. Definisi gangguan tingkah laku dalam DSM-IV-TR memfokuskakn pada periaku yang melanggar hak-hak dasar orang lain dan norma-norma sosial utama. Tipe perilaku yang dianggap sebagai symptom gangguan tingkah laku mencakup agresi dan kekejian terhadap orang lain atau hewan, merusakan kepemilikan, berbohong, dan mencuri. Gangguan tingkah laku merujuk berbagai yang kasar dan sering dilakukan yang jauh melampaui kenakalan dan tipuan praktis yang umum dilakukan anak-anak dan remaja. Sering kali perilaku tersebut ditandai dengan kesewenang-wenangan, kekejian dan kurangnya penyesalan, membuat gangguan tingkah laku merupakan salah satu criteria historis dalam gangguan kepribadian antisocial pada orang dewasa.
Gangguan tingkah laku—yang paling utama, agresitivitas fisik ekstern—namun menunjukkan berbagai perilaku seperti kehilangan kendali emosinya, bertengkar dengan orang dewasa, berulang kali menolak mematuhi perintah orang dewasa, sengaja melakukan hal-hal untuk mengganggu orang lain, dan mudah marah, kasar, mudah tersinggung, dan pendendam. DSM juga menyebutkan bahwa anak-anak semacam itu sebagian besar adalah laki-laki, jarang menilai konflik yang mereka alami dengan orang lagi sebagai kesalahan mereka.
Gangguan tingkah laku ditentukan oleh dampak perilaku si anak pada orang dan lingkungan sekitarnya. Hal itu terjadi pada anak laki-laki, namun jauh lebih sedikit yang diketahui mengenai komorbiditas gangguan tingkah laku dan ADHD pada anak-anak perempuan.
Kecemasan dan depresi secara umum dipandang sebagai masalah internalisasi umum di kalangan anak-anak dengan gangguan tingkah lakum dengan estimasi komodibitas bervariasi mulai dari 15 hingga 45 persen. Gangguan tingkah laku cukup umum terjadi. Prognosis bagi anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan tingkah laku bervariasi. Sebagian besar orang dewasa yang sangat antisocial semasa masih kanak-kanak. Meskipun demikian, lebih dari separuh anak yang mengalami gangguan tingkah laku tidak lantas menjadi orang dewasa yang antisocial. Dengan demikina, gangguan tingkah laku di masa kanak-kanak tidak dengan sendirinya berlanjut menjadi perlaku antisocial; di masa dewas, meskipun memang merupakan faktor mempredisposisi.
Sebagian besar anak laki-laki yang sangat agresif di usia dini, termasuk namun tidak hanya terbatas mereka yang mengalami gangguan tingkah laku, perilaku agresifnya tidak berlanjur hingga dan selepas masa remaj. Anak laki-laki dengan gangguan tingkah laku perilaku antisosialnya jauh lebih mungkin untuk berlanjut jika mereka memiliki salah satu orangtua yang mengalami gangguan kepribadian antisocial atau jika mereka memiliki kecerdesan verbal rendah.
  1. B. Biologi
Faktor kerturunan memang sangat mungkin berperan. Pengaruh genetika yang besar dan hampir tidak ada pengaruh lingkungan keluarga dalam simtoms-simtom gangguan tingkah laku di masa kanak-kanak. Perilaku criminal dan agresif dipengaruhi oleh faktor-faktor genetic dan lingkungan, dimana pengaruh faktor lingkungan sedikit lebih besar. Bukti-bukti yang mendukung kontribusi genetic dan lingkungan terhadap gangguan tingkah laku dan perilaku antisocial tidak berbeda pada laki-laki dan perempuan. Mungkin diturunkan dalam gangguan tingkah laku adalah karakteristik temperamental yang beriteraksi dengan berbagai masalah biologi lainnya.
  1. C. Psikologis
Salah satu bagian penting dalam perkembangan anak normal adalah berkembangnya kesadaran moral, berkembangnya naluri mengenal yang benar dan salah dan kemampuan. Bahkan keinginan untuk menaati berbagai aturan dan norma.
Teori pembelajaran yang melibatkan modeling dan pengondisian operant memberikan penjelasan yang bermanfaat mengenali perkembangan dan berlanjutnya berbagai masalah tingkah laku. Anak-anak juga dapat meniru tindakan agresif yang dilihatnya dari berbagai sumber lain, seperti televise. Karena egresi merupakan cara mancapai tujuan yang efektif, meskipun tidak menyenangkan, kemungkinan hal tersebut dikuatkan. Oleh karena itu, setelah ditiru tindakan agresif kemungkinan akan dipertahankan.
Para remaja tersebut meniru perilaku anak-anak seusia yang berprilaku antisocial secara tetap karena anak-anak tersebut tampak memiliki benda-benda berstatus tinggi dan kesempatan seksual. Selain itu, berbagai karakteristik pola asuh seperti disiplin keras dan tidak konsisten dan kurangnya pengawasan secara konsisten dihibungkan dengan perilaku antisocial pada anak-anak. Mungkin anak-anak yang tidak mendapatkan konsekuensi negatif atas tanda-tanda awal perilaku salah di kemudian hari mengalami masalah tingkah laku yang lebih serius. Proses-proses kognitif pada anak-anak agresif mengalamu bias tertentu; anak-anak tersebut menginterpretasikan tindakan ambigu.
  1. D. Pengaruh dari teman-teman seusia
Penerimaan atau penolakan dari temna-teman seusia, dan afiliasi dengan teman-teman seusia menunjukkan hubungan kausal dengan oerilaku agresif, bahkan dengan mengendalikan tingkat perilaku agresif yang terdahulu. Pergaulan dengan teman-teman seusia yang berprilaku nakal juga meningkatkan kemungkinan perilaku nakal.
  1. E. Sosiokultural
Kelas sosial dan kehidupan kota besar berhubungan dengan insiden kenakalan. Tingkat pengangguran tinggi, fasilitas pendidikan rendah, kehidupan keluarga yang terganggu, dan subkultur yang menganggap perilaku kriminal suatu hal yang dapat diterima terungkap sebagai faktor-faktor yang berkontribusi. Sebuah studi terhadap para remaja Afrika Amerika dan kulit putih yang diambil dari Pittsburgh Youth Study mengindikasikan bahwa tindak kriminal yang lebih berat yang ditemukan dikalangan etnis Afrika Amerika tampaknya berhubungan dengan tempat tinggal mereka yang berlokasi di pemukiman miskin, bukan dengan ras mereka. Dalam sampel total dengan mengabaikan perbedaan kelas social, para remaja Afrika Amerika jauh lebih mungkin melakukan tindak criminal berat daripada para remaja kulit putih. Namun para remaja Afrika Amerika yang tidak bermukim di wilayah pemukiman kelas bawah tidak berbeda dengan para remaja kulit putih dalam hal perilaku kenakalan serius.
Faktor-faktor social berperan. Korelasi terkuat dengan kenakalan selain wilayah mukim adalah hiperaktivitas dan kurangnya pengawasan orang tua; setelah faktor-faktor tersebut dikendalikan, para penghuni pemukiman kelas bawah sangat erat dengan perilaku kenakalan, namun tidak demikian dengan etnisitas.
  1. F. Prevensi
- Intervensi Keluarga. Pelatihan manajemen pola asuh (PMP), di mana para orang tua diajari untuk mengubah berbagai respons terhadap anak-anak mereka sehingga perilaku prososial dan bukannya perilaku antisocial dihargai secara konsisten. Para orang tua di ajarkan teknik-teknik seperti penguatan positif bila si anak menunjukkan perilaku positif dan pemberian jeda serta hilangnya perlakuan istimewa bila ia berperilaku agresif atau antisocial.
- Program Head Start. Pendidikan prasekolah berbasis komunitas yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan kognitif social sejak dini. Head Start menjalin kesepakatan dengan para professional di dalam komunitas untuk menyediakan layanan kesehatan umum dan kesehatan gigi bagi anak-anak, termasuk veksinasi, tes pendengaran dan penglihatan, penanganan medis dan informasi.
- Penanganan Multisistemik (PMS). PMS mencakup pemberian berbagai layanan terapi intensif dan komprehensif di dalam komunitas dengan menargetkan para remaja, keluarga, sekolah dan dalam beberapa kasus juga kelompok sebaya. Strategi yang digunakan PMS bervariasi, mencakup teknik-teknik perilaku kognitif, system keluarga, dan manajemen kasus. Keunikan terapi ini terletak pada kekuatan individu dan keluarga, mengindentifikasi konteks bagi masalah-masalah tingkah laku, menggunakan intervensi yang berfokus pada masa kini dan berorientasi pada tindakan, dan menggunakan intervensi yang membutuhkan upaya harian atau mingguan oleh para anggota keluarga.
- Penanganan Kognitif. Terapi kognitif individual bagi anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku dapat memperbaiki perilaku mereka, meskipun tanpa melibatkan keluarga. Contohnya, mengajarkan keterampilan kognitif kepada anak-anak untuk mengendalikan kemarahan mereka menunjukkan manfaat yang nyata dalam membantu mereka mengurangi perilaku agresifnya. Dalam pelatihan pengendalian kemarahan, anak-anak yangagresif diajari cara pengendalian diri dalam berbagai situasi yang memancing kemarahan. Startegi lain memfokuskan pada kurangnya perkembangan moral pada anak-anak dengan gangguan tingkah laku. Mengajarkan keterampilan penalaran moral kepada kelompok remaja yang mengalami gangguan perilaku di sekolah cukup berhasil.
  1. G. Kasus
- Sharon dan sahabatnya Jill sedang berbelanja di suatu butik. Jill menemukan blus yang dia inginkan, namun tidak mampu membelinya. Ia membawa blus tersebut ke ruang pas dan memakainya dibalik jaketnya. Ia memamerkannya kepada Sharon dan, tanpa memedulikan protes dari Sharon, dan meninggalkan toko tersebut. (Abnormal Psychology ninth edition, Gerald C Davidson - John M. Neale - Ann M. Kring)
- Wilson dilaporkan ke polisi karena diduga melakukan perbuatan cabul terhadap seorang mahasiswi berinisial Ag (19). Akibat kasus ini, pria kelahiran Ambon, 24 Agustus 1989, itu terpaksa mendekam di tahanan Polres Metro Jakarta Utara."Ini kenakalan remaja, janjian makan malam dan ada hubungan istimewa kemudian berlanjut ke kamar hotel dan di mobil sudah berciuman dan itu sampai ke hotel," papar Andi Mulia Siregar Kuasa Hukum Wilson saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta, Senin (11/10/2010).
(http://entertainment.kompas.com/read/2010/10/11/19375788/Pengacara:.Kasus.Wilson.Hanya.Kenakalan.Remaja)
  1. H. Sumber
- Abnormal Psychology ninth edition, Gerald C Davidson - John M. Neale - Ann M. Kring
- Abnormal Psychology Eleventh edition, Ann M. Kring – Sheri L. Johnson - Gerald C. Davison - John M. Neale