T ia Inayatillah (9119)

A. Simptom Conversion Disorder
Kriteria gangguan Konversi menurut DSM IV TR:
a. Paling tidak terdapat satu simtom atau deficit yang melibatkan fungsi motoriknya volunter atau fungsi sensoris yang menunjukkan adanya gangguan fisik
b. Faktor psikologis dinilai berhubungan dengan gangguan tersebut karena onset atau kambuhnya simtom fisik terkait dengan munculnya stresor psikososial atau situasi konflik.
c. Simptom tidak terjadi dengan disengaja dan tidak dapat dijelaskan secara medis.

Dalam gangguan conversi, simptom-simptom sensori atau motorik, seperti kehilangan penglihatan mendadak atau kelumpuhan, mengindikasikan suatu penyakit yang terkait dengan kerusakan neurologis atau sejenisnya, walaupun organ-organ tubuh dan sistem saraf dalam kondisi baik. Individu dapat mengalami kelumpuhan separuh atau seluruhnya pada lengan atau kaki; kejang dan gangguan koordinasi; kulit serasa tertusuk, perih, atau menggeletar; insensitivitas terhadap rasa sakit; hilang atau lemahnya pengindraan, yang disebut anesthesia, walaupun secara fisiologis mereka normal. Penglihatan dapat mengalami kerusakan parah; orang yang bersangkutan dapat separuh atau seluruhnya buta (tunnel vision), dimana bidang penglihatan menjadi terbatas seperti bila seseorang melalui lobang pipa. Aphonia, hilangnya suara dan hanya bisa berbicara dengan berbisik, dan anosmia, hilang atau melemahnya indera penciuma, atau simtom-simtom konversi lain.
B. Perspektif Biopsikososiokultural
1. Biologis
Meskipun faktor genetic diperkirakan menjadi faktor penting dalam perkembangan conversion disorder, penelitian tidak mendukung hal ini. Sementara itu, dalam beberapa penelitian, gejala conversion lebih sering muncul pada bagian kiri tubuh dibandingkan dengan bagian kanan (Binzer et al.,dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Hal ini merupakan penemuan menarik karena fungsi bagian kiri tubuh dikontrol oleh hemisfer kanan otak. Hemisfer kanan otak juga diperkirakan lebih berperan dibandingkan hemisfer kiri berkaitan dengan emosi negatif. Akan tetapi, berdasarkan penelitian yang lebih besar diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang dapat diobservasi dari frekuensi gejala pada bagian kanan versus bagian kiri otak (Roelofs et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Jadi, tidak ada faktor biologis yang mendasari conversion disorder.
2. Psikologis
Simptom muncul akibat faktor stress pada suatu hal. Perspektif psikologis ini dilihat dari dua teori, yakni teori psikoanalisa dan teori behavioral.
1) Teori psikoanalisa
Freud mengemukakan bahwa terdapat empat proses dasar dalam pembentukan gangguan konveksi :
a. Individu mengalami peristiwa traumatik, hal ini oleh Freud dianggap awal munculnya beberapa konflik yang tidak diterima dan disadari.
b. Konflik dan kecemasan yang dihasilkan tidak dapat diterima oleh ego, terjadi proses represi (membuat hal ini tidak disadari).
c. Kecemasan semakin meningkat dan mengancam untuk muncul ke kesadaran, sehingga orang tersebut dengan cara tertentu “mengkonversikannya” ke dalam simtom fisik. Hal ini mengurangi tekanan bahwa ia harus mengatasi langsung konfliknya disebut primary gain (peristiwa yang dianggap memberi imbalan primer dan mempertahankan simptom konversi).
d. Individu memperoleh perhatian dan simpati yang besar dari orang-orang di sekitarnya dan mungkin juga dapat melarikan diri atau menghindar dari tugas atau situasi tertentu terdapat pula secondary gain.
Menurut teori Psikodinamika , simtom histerikal memiliki fungsi yaitu memberikan orang tersebut keuntungan primer dan sekunder, yaitu
Primer yaitu hilangnya kecemasan yang mendasar yang diperoleh dari berkembangnya simtom-simtom neurotic. Sedangkan sekunder yaitu keuntungan sampingan yang dihubungkan dengan gangguan neurotis atau lainnya, seperti ekspresi simpati, perhatian yang meningkat, dan terbebas dari tanggungjawab.
2) Teori Behavioral
Teori psikodinamika dan teori behavioral bahwa simtom-simtom dalam gangguan konversi dapat mengatasi kecemasan. Teoritikus psikodinamika mencari penyebab kecemasan dalam konflik-konflik yang tidak disadari. Behavioral berfokus pada hal-hal yang secara langsung menguatkan simtom dan peran sekundernya dalam membantu individu menghindari atau melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman atau membangkitkan kecemasan. Perbedaan dalam pengalaman behavioral dapat menjelaskan bahwa “mengapa secara histories gangguan konversi lebih sering dilaporkan oleh wanita daripada pria.
Pandangan behavioral yang dikemukakan Ullman&Krasner (dalam Davidson, Neale, Kring, 2004), menyebutkan bahwa gangguan konversi mirip dengan malingering, dimana individu mengadopsi simptom untuk mencapai suatu tujuan. Menurut pandangan mereka, individu dengan conversion disorder berusaha untuk berperilaku sesuai dengan pandangan mereka mengenai bagaimana seseorang dengan penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik, akan bereaksi.
3) Teori Kognitif
Penjelasan kognitif lain berfungsi pada peran dari pikiran yang terdistorsi.
3. Sosiokultural
Salah satu bukti bahwa faktor social dan budaya berperan dalam conversion disorder ditunjukkan dari semakin berkurangnya gangguan ini dalam beberapa abad terakhir. Beberapa hipotesis yang menjelaskan bahwa gangguan ini mulai berkurang adalah misalnya terapis yang ahli dalam bidang psikoanalisis menyebutkan bahwa dalam paruh kedua abad 19, ketika tingkat kemunculan conversion disorder tinggi di Perancis dan Austria, perilaku seksual yang di repress dapat berkontribusi pada meningktnya prevalensi gangguan ini. Berkurangnya gangguan ini dapat disebabkan oleh semakin luwesnya norma seksual dan semakin berkembangnya ilmu psikologi dan kedokteran pada abad ke 20, yang lebih toleran terhadap kecemasan akibat disfungsi yang tidak berkaitan dengan hal fisiologis daripada sebelumnya.
Selain itu peran faktor sosial dan budaya juga menunjukkan bahwa conversion disorder lebih sering dialami oleh mereka yang berada di daerah pedesaan atau berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah (Binzer et al.,1996;Folks, Ford&Regan, 1984 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Mereka mengalami hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan mengenai konsep medis dan psikologis. Sementara itu, diagnosis mengenai hysteria berkurang pada masyarakat industrialis, seperti Inggris, dan lebih umum pada negara yang belum berkembang, seperti Libya (Pu et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004 ).
C. Prevensi
Prevensi yang digunakan untuk penderita conversion disorder adalah prevensi sekunder, yang diambil dari berbagai perspektif:
  1. 1. Pendekatan behavioral untuk menangani gangguan konversi dan somtoform lainnya menekankan pada menghilangkan sumber dari reinforcementsekunder (keuntungan sekunder) yang dapat dihubungkan dalam keluhan-keluhan fisik. Terapis behavioral dapat bekerja secara lebih langsung dengan si penderita gangguan somatoform, membantu orang tersebut belajar dalam menangani stress atau kecemasan dengan cara yang lebih adaptif. Dalam terapi behavioral, intervensi yang dapat diberikan adalah dengan metode systematic desensitization dan vivo exposure therapy.
  2. 2. Teknik kognitif-behavioral paling sering pemaparan terhadap pencegahan respon dan restrukturisasi kognitif. Secara sengaja memunculkan kerusakan yang dipersepsikan di depan umum, dan bukan menutupinya melalui penggunaan rias wajah dan pakaian. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai penampilan fisiknya dan cara meyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas. Dalam hal ini, CBT (Cognitive Behavior Therapy) dapat digunakan.

  1. 3. Teknik Psikoanalisa:
  • •Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Joseph Breuer)
    •Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud)


  1. 4. Farmakoterapi. Meskipun tidak ada unsur biologisnya, penggunaan antidepresan, terutamafluoxetine(Prozac) dalam menangani beberapa tipe gangguan somatoform dapat digunakan.
  2. D. Contoh Kasus
    1. 1. Kasus Anna O
Anna O. adalah nama samaran untuk Bertha Pappenheim, seorang pasien yahudi yang menjadi subyek penelitian Sigmund Freud bersama Josef Breuer selama 2 tahun lamanya, antara tahun 1880-1882. Seperti yang telah dijelaskan diatas, Anna O mengalami conversion disorder, sebuah gangguan psikis yang terkonversi menjadi wujud penyakit fisik, dengan simptom utama epilepsi dan kelumpuhan parsial pada salah satu lengannya.
Anna O dibawa ke Breur dan Freud setelah dokter anatomi gagal mendiagnosa penyakit Anna, lantaran secara jasmaniah Anna memang tidak memiliki gangguan biologis apapun. Selama 2 tahun lamanya Freud dan Breuer melakukan penelitian kejiwaan dan mencoba untuk ’masuk’ kedalam fikiran Anna melalui metode apa yang saat itu mereka sebut dengan istilah ‘the talking cure’ (cikal bakal psikoanalisis). Semua proses tesebut direkam ke dalam sebuah catatan yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul ’Studies on Hysteria’.
Anna adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kakaknya bernama Henriette (meninggal umur 18tahun) dan Flora (meninggal umur 2tahun), adiknya bernama Wilheilm. Sepeninggalan kakak2nya, Anna menjadi sangat2 dekat dengan ayahnya hingga akhirnya beberapa tahun kemudian ayahnya pun turut meninggal dunia meninggalkannya bertiga bersama ibu dan adiknya. Anna tidak pernah dekat dengan ibunya karena (menurut alam bawah sadar Anna) ibunya terlalu sibuk mengurusi Wilhem. Dan selama menjalani proses talking cure, Freud dan Breuer akhirnya menemukan titik cerah ketika dalam kondisi setengah sadar (states of abscence) Anna bercerita bagaimana sebenarnya sebelum meninggal dunia, Anna sempat bertemu dengan ayahnya, dan bagaimana sebenarnya ayah Anna meninggal di dalam dekapan lengannya. Anna mengalami proses guilt yang amat berat hingga lengannya itupun menjadi lumpuh. Pada tahun 1882 kelumpuhan tangan Anna dapat disembuhkan setelah the talking cure berhasil me-rekonsiliasi-kan rasa guiltnya.
  1. 2. Contoh film Home of the brave
Film yang dibuat oleh Irwin Winkler ini menceritakan tentang prajurit Amerika yang bertugas di Irak yang mengalami depresi berat setelah kembali dari perang. Seorang prajurit wanita harus rela kehilangan sebelah pergelangan tangannya. selama ini dia dikenal sebagai seorang atlit bola basket di kampusnya sebelum masuk menjadi tentara amerika yang dikirim untuk bertugas di Irak. Dengan tangannya yang sebelah ia kesusahan untuk menjalani sisa hidupnya.
Seorang lagi prajurit kulit hitam yang depresi karena tidak sengaja menembak seorang wanita di Irak. Kembali dari perang ia mengalami masalah dengan pacarnya yang membuat ia terpaksa menyanderanya tempat ia bekerja dan akhirnya harus mati ditembak oleh polisi yang bertugas.
Seorang lagi memilih untuk kembali lagi ke Irak setelah melihat bahwa tidak ada sesuatu yang bisa dibuatnya. sebelumnya dia mencoba untuk menjadi penjaga tiket di sebuah bioskop tapi itu tidak bertahan lama.
Ada lagi seorang dokter yang yang bermasalah dengan keluarganya setelah kembali dari perang. ia dan menjadi seorang pemabuk menghadapi semua itu.
Sebagian besar prajurit Amerika yang bertugas di Irak mengalami depresi yang berat. namun, sayang pemerintahnya terus mengirimkan pemuda-pemuda nya untuk bertarung nyawa demi memperturutkan hawa nafsu pemimpin negeri itu.

220px-Home_of_the_brave.jpg
Film The Secret of Dr.Kildare
Dr. Gillespie's cancer has gotten worse, and to force him to take a rest instead of pursuing a sulfa-drug/pneumonia study, Kildare refuses to assist Gillespie, and instead accepts a case of hysterical blindness. She's also the daughter of a millionaire who could help the hospital. Written by Kathy Li
Dr. Leonard Gillespie is approached by the very rich man, Paul Messenger, who is worried about his daughter Nancy's mood swings. Dr. Kildare meets the girl, without her knowing that he is a doctor, to see what he can find out. Nancy suffers from severe headaches and occasional hysterical blindness. With Gillespie's guidance, Kildare realizes it's all in her mind. Gillespie meanwhile is clearly not well. He's working too hard and is getting too little sleep leading him to faint in his consulting room. Kildare's parents unexpectedly come to New York City, ostensibly for a visit, but the young doctor doesn't realize his father is ill and seeing a specialist. Written by garykmcd
Daftar Pustaka
Davison, Gerald. C & Neale, John.M. 2001. Abnormal Psychology 8th edition. New York: John Wiley & Son
Carson, C. Robert;Butcher, James N. 1992.Abnormal Psychology and Modern Life.9th edition.Harper-Collin Publisher Inc.New York.
Coleman, James C.1978.Abnormal Psychology and Modern Life.5th edition.D.B.Taraporevala 1st edition,Private Ltd. Bombay.