Dwissa Lestari (9163)


Dependent Personality Disorder
A. Pengertian:
Seseorang yang mengalami dependent personality disorder memiliki dua dasar karakteristik. Pertama, mereka dengan pasif membiarkan orang lain untuk membuat keputusan yang penting dalam hidupnya, karena tidak mempunyai rasa percaya diri dan merasaka bahwa mereka tidak dapat independen.
Tidak seperti orang dengan avoidant personality disorder, individu dengan dependent personality disorder sangat tergantung pada orang lain. bagaimanapun, mereka sangat tergantung dan pasif, sehingga mereka mungkin menerima kebalikan dengan apa yang mereka inginkan karena orang lain menjadi tidak sabar menghadapi kemandiriannya. mereasa yakin bahwa mereka tidak cukup baik, mereka bahkan tidak dapat membuat keputusan yang paling sepele bagi diri mereka sendiri. sebagai contoh, seorang pria mungkin merasa tidak mampu memilih pakaian yang akan ia kenakan sehari-hari tanpa berkonsultasi dengan pasangannya. Dalam area yang lebih penting, ia dapat mengandalkan pasangannya untuk memberitahunya mengenai pekerjaan apa yang harus ia cari, siapa yang harus menjadi temannya, dan bagaimana ia harus merencanakan hidupnya.
Orang lain mungkin mencirikan individu dengan gangguan tersebut sebagai seseorang yang sangat bergantung. Tanpa orang lain di sekitar mereka, orang dengan gangguan kepribadian dependen merasa sedih dan terabaikan. mereka menjadi terjebak dalam ketakutan bahwa orang terdekatnya akan meninggalkan mereka. Mereka menjadi sangat ekstrem untuk menghindari tidak disukai orang lain, misalnya dnegan menyetujui opini orang lain meskipun ketika mereka percaya bahwa opini tersebut mungkin salah. Terkadang mereka mengambil alih tanggung jawab yang dihindari oleh orang lain, sehingga orang lain akan menyukai dan menerimanya. Jika seseorang mengkritiknya, mereka cenderung merasa hancur. Mereka cenderung melemparkan diri mereka sepenuh hati dalam suatu hubungan, sehingga menjadi hancur ketika hubungan berakhir. ketergantungannya yang ekstrem tersebut menyababkan mereka segera mencari hubungan lain untuk mengisi kekosongan yang mereka rasakan.
Hal ini membuat mereka menjadi sangat patuh dan melekat dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Orang dengan gangguan ini merasa sangat sulit melakuakn segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Mereka mencari saran dalam membuat keputusan yang paling kecil sekalipun. Anak-anak atau remaja dengan masalah ini mencari orang tua mereka untuk memilihkan pakaian, makanan, sekolah atau kampus, bahkan teman-teman mereka. Orang dewasa dengangangguan ini membiarkan orang lain mengambil keputusan sampai mereka membiarkan orang tua mereka menentukan dengan siapa mereka akan menikah (seperti kasus Matthew)
Sesudah menikah, orang dengan gangguan kepribadian dependen akan bergantung pada pasangannya dalam membuat keputusan seperti dimana mereka akan tinggal, tetangga mana yang bisa dijadikan teman, bagaimana mereka harus mendisiplinkan anak, pekerjaan seperti apa yang harus mereka ambil, bagaimana mereka membuat anggaran rumah tangga, dan kemana sebaiknya mereka berlibur. Seperti Matthew (kasus) individu dengan gangguan kepribadian dependen menghindari posisi bertanggung jawab. Mereka menolak tantangan dan promosi serta bekerja di bawah potensi mereka. Mereka cenderung sangt sensitif terhadap kritikan serta terpaku pada rasa takut akan penolakan dan pencampakan. Mereka dapat merasa hancur karena berakhirnya suatu hubungan dekat atau karena adanya kemungkinan untuk menjalani hidup sendiri. Karena takut akan penolakan, mereka sering menomorduakan keinginan dan kebutuhan mereka demi orang lain. Mereka setuju akan pernyataan yang aneh tentang diri mereka sendiri dan melakukan hal-hal yang merendahkan diri untuk menyenangkan orang lain.
Meskipun gangguan kepribadian dependen lebih sering didiagnosis pada perempuan (APA, 2000; Bornstein, 1997), tidaklah jelas akan adanya perbedaan mendasar dalam prevalensi gangguan antara laki-laki dan perempuan (Corbitt & Widiger, 1995). Diagnosis sering kali dikenakan pada perempuan, karena takutdicampakkan, menoleransi suami mereka yang terang-terangan berselingkuh, menganiaya mereka, atau menggunakan keuangan keluarga untuk berjudi. Perasaan tidak adekuat dan putu asa yang mendasar melumpuhkan mereka untuk mengambil langkah-langkah efektif. Dalam suatu lingkaran setan, kepasifan mereka mendorong penganiayaaan lebih lanjut, membuat mereka semakin merasa tidak adekuat dan putus asa. Diagnosis yang memberikan pada perempuan dengan pola ini dianggap kontroversial dan tampak tidak adil seolah 'menyalahkan korban', karena perempuan dalam masyarakat kita sering diasosiasikan untuk berperan dependen. Panel yang digelar oleh American Psychological Association mencatat bahwa perempuan juga menghadapi stres yang lebih besar daripada laki-laki dalam kehidupan kontemporer (Goleman, 1990b). terlebih, karena perempuan umumnya menghadapi tekanan sosial yang lebih besar untuk menjadi pasif, lembut, atau penuh penghormatan daripada laki-laki, perilaku dependen pada perempuan dalat merefleksikan pengaruh budaya danbukan gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian dependen telah dikaitkan dengan gangguan psikologis lain, termasuk depresi mayor, gangguan bipolar, dan fobia sosial, serta dengan masalah-masalah fisik, seperti hipertensi, kanker, dan gangguan gastrointestinal seperti ulcer dan kolitis (Bornstein, 1999; Loranger, 1996; Reich, 1996). Tampak pula adanya kaitan antara kepribadian dependen dengan apa yang disebut oleh para teoritikus psikodinamika sebagai masalah perilaku "oral", seperti merokok, gangguan makan, dan alkoholisme (Bornstein, 1993, 1999). Penulis psikodinamika menelusuri perilaku dependen sampai pada ketergantungan total dari bayi yang baru lahir dan pencarian makanan oleh bayi melalui sarana oral (menghisap). Dari masa bayi, mereka menyatakan, orang menghubungkan ketersediaan makanan dengan cinta. Makanan dapat menjadi simbol cinta, dan orang dengan kepribadian dependen dapat makan berlebihan untuk menelan cinta secara simbolis. Penelitian menunjukkan bahwa orang denga kepribadian dependen lebih bergantung pada orang lain untuk mendapatkan dukungan dan bimbingan daripada kebanyakan orang (Greenberg & Bornstein, 1988a). Orang dengan kepribadian dependen sering mendistribusikan masalah mereka pada penyebab fisik dan bukan emosional serta mencari dukungan dan saran dari ahli-ahli media dan buka psikolog atau konselor (Greenberg & Bornstein, 1988b)
  1. B. Karakteristik
Orang dengan gangguan ini akan memiliki kebutuhan berlebih untuk diperhatikan yang mencorong mereka menjadi patuh, bergantung, dan takut terhadap perpisahan sebagaimana diindikasikan oleh lima atau lebih dari hal-hal berikut:
  1. 1. Kesulitan membuat keputusan sehari-hari tanpa nasihat dan kepastian.
  2. 2. Kebutuhan terhadap orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab bagi sebagian besar area kehidupan.
  3. 3. Kesulitan mengekspresikan ketidaksetujuan dengan orang lain karena takut kehilangan dukungan atau penerimaan.
  4. 4. Kesulitan memulai suatu tugas atau proyek karena rendahnya kepercayaan diri dalam hal penilaian atau kemampuan.
  5. 5. Kecenderungan untuk mendapatkan dukungan dan pemeliharaan dari orang lain, hingga tingkatan ketika ia bersedia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.
  6. 6. Merasa tidak nyaman atau tidak mampu ketika sendirian karena merasa takut tidak mampu merawat orang lain.
  7. 7. Mencari hubungan lain sebagai sumber harapan dan dukungan segera setelah suatu hubungan berakhir.
  8. 8. Terjebak dalam ketakutan untuk ditinggalkan dan harus mengurus dirinya sendiri.
  9. C. Prevalensi
Prevalensi gangguan kepribadian sekitar 1,5 persen (Togersen, Kringlen & Cramer, 2001); angka yang lebih tinggi ditemukan di India dan Jepang, mungkin karena masyarakat tersebut mendorong perilaku dependen. Gangguan ini lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding laki-laki, mungkin karena pengalaman sosialisasi pada masa kanak-kanak yang berbeda pada laki-laki dan permempuan (Corbitt & Widiger, 1995; Weissman, 1993). Gangguan kepribadian dependen sering dialami bersamaan dengan gangguan kepribadian ambang, skizoid, histrionik, skizotipal, dan menghindar serta diagnosis Aksis I yaitu gangguan bipolar, depresi, gangguan anxietas, dan bulimia.
  1. D. Etiologi

Perspektif Psikodinamika:
Teori psikodinamika biasanya memandang individu dengan gangguan kepribadian dependen mengalami regresi atau fiksasi pada tahap oral karena orang tua yang terlalu terlibat atau orang tua yang melalaikan kebutuhan anak untuk tergantung pada mereka. Para teoritikus relasi objek memandang individu seperti itu merasa tidak aman untuk terlekat, dan merasakan ketakutan akan diabaikan yang permanen (West & Sheldon, 1988). Karena rendahnya harga diri mereka, mereka bersandar kepada orang lain untuk mendapatkan arahan dan dukungan (Livesley, Schroeder, & jackson, 1990).


Perspektif Kognitif:
Dalam Beck et al. (1990), Fleming menyatakan sejumlah distorsi kognitif yang membuat gangguan tetap bertahan. Ada dua yang sepertinya penting: Pertama, individu dependen melihat dirinya sebagai “secara alamiah tidak mampu dan tidak berdaya”; kedua, kekurangan-kekurangan yang mereka rasa ada pada dirinya (self-perceived shortcomings) mengarahkan mereka untuk menyimpulkan bahwa mereka harus mencari seseorang yang bisa mengatasi kesulitan hidup dalam dunia yang berbahaya. Hal tersebut sebenarnya hanya merupakan pengulangan dari apa yang telah mereka pelajari. Namun antara premis dan kesimpulan terdapat beberapa kesalahan logis yang menyimpangkan kenyataan (Fleming, 1990) dan kemudian membatalkan semua argumen. Yang paling penting dari hal tersebut adalah pemikiran dikotomus, suatu gaya pemikiran yang membagi dunia menjadi kutub yang saling bertolak belakang, tanpa terdapat daerah abu-abu di antara keduanya. Jika individu dependen tidak diperhatikan, mereka melihat diri mereka sendiri sebagai seseorang yang benar-benar sendirian di dunia ini. Dengan cara yang sama, jika mereka sama sekali tidak yakin bagaimana melakukan sesuatu, tentunya masalah tersebut pasti tidak dapat teratasi, paling tidak bagi mereka. Pemikiran dikotomus tidak dapat dihindari mengarah pada distorsi ketiga: individu dependen cenderung untuk menganggap sesuatu sebagai malapetaka.
  1. E. Kasus
Kasus 1:
Betty belum pernah hidup sendiri; bahkan ketika ia belajar di universitas 30 tahun yang lalu, ia tetap tinggal dirumah. Ia dikenal oleh teman sekelasnya sebagai seseorang yang bergantung pada orang lain. Meminta orang lain memilihkan sesuatu untuknya, ia melakukan apa pun yang dikatakan oleh temannya, bahkan sampai pilihan mata kuliah yang akan diambil dan pakaian yang harus dikenakannya setiap hari. Satu minggu setelah wisuda, ia menikahi Ken yang telah dikencaninya sepanjang tahun terakhir. Ia sangat tertarik kepada ken karena gayanya yang mendominasi yang membebaskan Betty dari kewajiban untuk membuat keputusan. Sebagaimana yang biasa ia lakukan dengan orang lain yang dekat dengannya, Betty selalu mengikuti apa yang diusulkan oleh Ken meskipun ia terkadang tidak sepenuhnya setuju. Ia takut Ken akan marah dan meninggalkannya jika ia tidak menurut. Meskioun ia ingin mencari pekerjaan di luar rumah, Ken bersikeras bahwa ia menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, dan Betty menyetujui permintaan Ken tersebut. Meskipun demikian, ketika ia dirumah sendirian, ia menelepon teman-temannya dan memohon mereka untuk datang minum kopi. Kritikan sekecil apa pun dari Ken, teman-temannya, atau orang lain dapat membuatnya mereasa tertekan dan kesal sepanjang hari.
Kasus 2:
Matthew (berusia 34 tahun) pria lajang yang tinggal bersama ibunya dan bekerja sebagai akuntan. Dia telah mendapatkan treatment karena merasa kesedihannya yang teramat dalam setelah hubungannya berakhir dengan kekasihnya. Ibunya tidak menyetujui rencana pernihakannya, dengan berpura-pura memberikan alasan bahwa wanita tersebut memiliki keyakinan yang berbeda. Matthew merasa terjebak dan merasa dipaksa untuk memilih antara ibu dan kekasinya, dan sejak “blood is thicker than water” (keluarga lebih penting daripada orang lain), dia memutuskan untuk tidak menentang keinginan ibunya. Meskipun demikian, dia sangat marah kepada dirinya sendiri dan kepada ibunya, dan percaya bahwa ibunya tidak akan pernah mengijinkannya menikah dan sangat posesif kepada dirinya. Ibunya “wore the pants in the family” (sangat kuat dalam keluarganya) dan sangat berkuasa untuk medapatkan apa yang ia inginkan. Matthew mengkhawatirkan ibunya dan mengganggap dirinya adalah seorang yang lemah, namun juga mengagumi ibunya dan menghargai keputusan ibunya. – “maybe Carol wasn’t right for me after all” . Matthew membalikkan rasa kekesalannya dan sikap “a mother knows best” (seorang ibu tahu apa yang terbaik). Dia merasa bahwa keputusannya sangat menyedihkan. (Adapted from Spitzer & others, 1989, pp. 123-124)
  1. F. Prevensi
Treatment
Individu dengan gangguan kepribadian dependen tidak dianjurkan untuk mendapatkan pengobatan metidepressant dan benzodiazepines kadang memberikan kondisi yang baik pada individu. Beberapa jenis obat seperti imipramine (chlorpromazine) justru tidak memberikan hasil yang positif. Dalam psikoterapi, treatment diberikan dengan tujuan agar individu dengan gangguan kepribadian dapat mencegah semakin memburuknya kondisi pasien, mengembalikan keseimbangan, mengurangi gejala-gejala yang muncul, mengembalikan kemampuan yang telah hilang, dan kemampuan adaptasi. Fokus utama dalam proses mengembalikan kemampuan adaptasi adalah individu mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Psikoterapi dapat dianggap berhasil bila;
- Individu mampu mempunyai komitmen sendiri
- Menikmati hubungan keakraban dengan orang lain
- Mampu menjadi anggota team, tanpa perlu adanya persaingan
- Mampu memberikan opini sendiri kepada orang lain
- Penuh perhatian terhadap orang lain
- Mampu untuk memperbaiki dirinya dari kritikan

Menurut kognitif:
Suatu pendekatan kognitif-perilaku terhadap gangguan tersebut menyebutkan bahwa inti dari gangguan ini adalah kurang asertif dan kecemasan untuk membuat keputusan sendiri. Individu yang bergantung percaya bahwa mereka tidak cukup baik dan tidak dapat melakukan apa pun, sehingga mereka tidak mampu untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Bagi mereka, solusi yang utama adalah menemukan orang lain yang akan merawat mereka dan membebaskan mereka dari kewajuban untum membuat keputusan sendiri. Setelah sampai pada solusi tersebut, mereka tidak akan berani berperilaku secara asertif yang dapat mengancam kenyamanan hubungan yang dimilikinya.
Tidak seperti kebanyakan gangguan kepribadian lainnya, terdapat lebih banyak optimisme mengenai treatment orang dengan dependent personality disorder. Mayoritas orang dengan kondisi tersebut termotivasi untuk berubah (Millon dkk, 2000). Dalam psikoterapi dengan pendekatan kognitif-perilaku, terapis menyediakan cara terstruktur bagi klien untuk mempraktikkan peningkatan level kemandirian dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Klien juga mempelajari bagaimana mengidentifikasi area kemampuan yang masih kurang dan kemudian mendapatkan kemapuan yang diperlukan tuntuk meningkatkan hal tersebut. Akan tetapi, ketika membantu klien, terapis harus berhati-hati agar dirinya tidak menajdi figur otoritas yang baru bagi klien. Jelas akan menjadi tidak produktif apabila klien menjadi bergantung pada terapis sebagaimana ia bergantung pada orang lain dalam hidupnya (Beck dkk. 2004; Freeman dkk, 1990).
Group therapy
Terapi kelompok dianggap paling baik untuk menyembuhkan gangguan kepribadian dependen, namun dalam beberapa kasus, beberapa individu membutuhkan waktu yang relatif lama. Dalam terapi ini hasil yang dapat diperoleh; individu lebih percaya diri, mampu berpendapat di tempat umum, dan dapat merasakan perasaan-perasaannya sendiri.


Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik relaksasi dan meditasi secara tepat. Terapi ini melatih individu mengontrol emosi negatif, melatih diri agar tidak tergantung pada orang lain dan pengambilan keputusan yang lebih konstruktif tanpa dipengaruhi oleh perasaan negatif.
Sumber:
- Abnormal Psychology, the problem of maladaptive behaviour, seventh edition; Irwin G. Sarason and Barbara R. Sarason; Prentice Hall
- Abnormal Psychology Clinical Perpectives on Psychological Disorders; Halgin Richard P and Susan Krauss Whitbourne; 2010
- Abnormal Psychology; Geral C davidson, John M Neale, and Ann M kring
- Abnormal Psychology in a Changing World; Jeffrey S Nevid, Spencer a Rathus, Beverly Greene; Prentice Hall; Fifth edition 2005