Risky Astari Deliana (9151)

Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri, fugue sama dengan amnesia ”dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif memori yang hilang lebih luas dari pada amnesia dissosiative, individu tidak hanya kehilangan seluruh ingatanya (misalnya nama, keluarga atau pekerjaanya), mereka secara mendadak meninggalkan rumah dan pekerjaanya serta memiliki identitas yang baru (parsial atau total) (APA, 1994). Namun mereka mampu membentuk hubungan sosial yang baik dengan lingkungan yang baru. Fugue, seperti amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2 orang di 1.000 di antara populasi umum (APA, 1994). Gangguan ini muncul sesudah individu mengalami stress atau konflik yang berat,misalnya pertengkaran rumah tangga, mengalami penolakan, kesulitan dalam pekerjaan dan keuangan, perang atau bencana alam .
Perilaku seseorang pasien dengan fugue disosiatif adalah lebih bertujuan dan terintegrasi dengan amnesianya dibandingkan pasien dengan amnesia disosiatif. Pasien dengan fugue disosiatif telah berjalan jalan secara fisik dari rumah dan situasi kerjanya dan tidak dapat mengingat aspek penting identitas mereka sebelumnya (nama,keluarga, pekerjaan). Pasien tersebut seringkali, tetapi tidak selalu, mengambil identitas dan pekerjaan yang sepenuhnya baru, walaupun identitas baru biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian ganda yang terlihat pada gangguan identitas disosiatif.
Penyebab dissociative fugue serupa kepada dissociative amnesia. Dissociative fugue sering disalaharti sebagai malingering, karena kedua kondisi bisa terjadi dibawah keadaan bahwa seseorang mungkin tidak bisa memahami keinginan untuk menghindar. Kebanyakan fugue tampak melambangkan pemenuhan keinginan yang disembunyikan (misal, lari dari tekanan yang berlebihan, seperti perceraian atau kegagalan keuangan). Fugues lainnya berhubungan dengan perasaan ditolak atau dipisahkan atau mereka bisa melindungi orang tersebut dari bunuh diri atau impul pembunuhan. Ketika dissociative fugue berulang labih dari beberapa waktu, orang tersebut biasanya memiliki gangguan identitas dissociative yang mendasari. Fugue bisa berlangsung dari hitungan jam sampai mingguan, atau kadangkala bahkan lebih lama.
  1. 1. Kriteria Diagnostik
    1. a. Gangguan dominan yang terjadi secara tiba-tiba, pegi jauh dari rumah atau tempat kerja, dengan ketidakmampuan untuk mengingat masa lalu seseorang.
    2. b. Kebingungan tentang identitas pribadi atau asumsi identitas baru (parsial atau total).
    3. c. Gangguan tidak muncul secara eksklusif selama Dissociative Identity Disorder dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, penyalahgunaan obat, obat) atau kondisi medis secara umum (misalnya, epilepsi lobus temporal) .
    4. d. Gejala-gejala klinis yang signifikan menyebabkan stres atau gangguan di daerah penting sosial, pekerjaan, atau fungsi lainnya.
  2. 2. Tinjauan Perspektif
Gangguan disosiatif merupakan fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik. Bagaimana perasaan seseorang akan identitas dirinya bias menjadi sangat terdistorsi hingga orang tersebut membangun kepribadian ganda, kehilangan banyak potongan dari ingatan pribadi, atau membentuk sebuah identitas baru.
  1. a. Pandangan Psikodinamika
Amnesia disosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman yang traumatis. Gangguan disosiatif melibatkan pengguna represi secara besar – besaran yang menghasilkan terpisahnya impuls yang tidak dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari ingatan seseorang. Dalam amnesia dan fugue disosiatif, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan mengeluarkan ingatan yang menggangu atau dengan mendisosiasi impuls menakutkan yang bersifat biseksual atau agresif.
  1. b. Pandangan Kognitif Dan Belajar
Teoritikus belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suatu respons yang dipelajari, meliputi proses tidak berpikir tentang tindakan atau pikiran yang menggangu dalam rangka menghindari rasa bersalah dan malu yang di timbulkan pleh pengalaman. Kebiasaan tidak berpikir tentang masalah– masalah tersebut secara negative dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan atau dengan memindahkan perasaan bersalah atau malu.
  1. c. Defisit Memori dan Intelektual
Sangat sedikit penelitian sistematis yang dilakukan pada individu dengan amnesia disosiatif dan fugue. Apa yang diketahui sebagian besar berasal dari studi yang intensif dari memori dan fungsi intelektual dari kasus yang dengan gangguan ini, sehingga setiap kesimpulan harus dianggap tentatif, sambil menunggu studi lebih lanjut dari sampel yang lebih besar dengan kelompok kontrol yang tepat. Apa yang dapat dikumpulkan dari beberapa studi kasus semacam itu adalah bahwa pengetahuan semantik orang-orang dengan gangguan (dinilai melalui subtes perbendaharaan sebuah tes IQ) secara umum tampak utuh. Defisit utama orang-orang ini menunjukkan terganggunya daya ingat episodik dan autobiografi (Kihlstrom, 2005; Kihlstrom & Schacter, 2000). Memang, sejumlah penelitian menggunakan teknik pencitraan otak telah mengkonfirmasi bahwa ketika orang dengan amnesia disosiatif disajikan dengan tugas-tugas memori autobiografi, menunjukkan penurunan aktivasi di daerah otak kanan mereka frontal dan temporal (Kihlstrom, 2005; Markowitsch, 1999).
  1. 3. Treatment
Psikoterapi adalah penanganan primer terhadap gangguan disosiatif ini. Bentuk terapinya berupa terapi bicara, konseling atau terapi psikososial, meliputi berbicara tentang gangguan yang diderita oleh pasien jiwa. Terapinya akan membantu anda mengerti penyebab dari kondisi yang dialami. Psikoterapi untuk gangguan disosiasi sering mengikutsertakan teknik seperti hipnotis yang membantu kita mengingat trauma yang menimbulkan gejala disosiatif.
Penanganan gangguan disosiatif yang lain meliputi :
  • Terapi kesenian kreatif. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa tipe terapi ini menggunakan proses kreatif untuk membantu pasien yang sulit mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Seni kreatif dapat membantu meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni kreatif meliputi kesenian, tari, drama dan puisi.
  • Terapi kognitif. Terapi kognitif ini bisa membantu untuk mengidentifikasikan kelakuan yang negative dan tidak sehat dan menggantikannya dengan yang positif dan sehat, dan semua tergantung dari ide dalam pikiran untuk mendeterminasikan apa yang menjadi perilaku pemeriksa.
  • Terapi obat. Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penangan awal, walaupun tidak ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan disosiatif ini. Biasanya pasien diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk membantu mengontrol gejala mental pada gangguan disosiatif ini.
Ahli terapi biasanya merekomendasikan menggunakan hypnosis yang biasanya berupa hypnoterapi atau hipnotis sugesti sebagai bagian dari penanganan pada gangguan disosiatif.
Hypnosis menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan tenang dalam pikiran. Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi lebih intensif dan spesifik. Karena pasien lebih terbuka terhadap sugesti saat pasien terhipnotis. Ada beberapa konsentrasi yang menyatakan bahwa bisa saja ahli hipnotis akan menanamkan memori yang salah dalam mensugesti.
Selain itu, kita juga bisa melakukan pencegahan. Anak- anak yang secara fisik, emosional dan seksual mengalami gangguan, sangat beresiko tinggi mengalami gangguan mental yang dalam hal ini adalah gangguan disosiatif. Jika terjadi hal yang demikian, maka bersegeralah mengobati secara sugesti, agar penangan tidak berupa obat anti depresan ataupun obat anti stress, karena diketahui bahwa jika menanamkan sugesti yang baik terhadap usia belia, maka nantinya akan didapatkan hasil yang maksimal, dengan penangan yang minimal.
  1. 4. Contoh Kasus
Laki-laki itu memberi tahu polisi bahwa namany Burt Tate . Lelaki berkulit putih berusia 42 tahun ini terlibat perkelahian di restoran tempat kerjanya. Saat polisi tiba, mereka menemukannya tidak membawa kartu identitas. Ia mengatakan pada mereka bahwa ia telah datang ke kota tersebut beberapa minggu yang lalu, namun tidak dapat mengingat dimana ia tinggal atau bekerja sebelum datang ke kota itu. Mesti tidak ada tuduhan yang diberikan kepadanya, polisi memintanya datang ke ruang gawat darurat untuk dievaluasi. “Burt” tahu kota apa itu dan tahu tanggal berapa sekarang dan menyadari bahwa terasa aneh kalau ia tidak mengingat masa lalunya, tetapi terlihat tidak peduli dengan hal itu. Tidak ada bukti adanya luka fisik atau trauma otak atau penyalahgunaan obat maupun alkohol.
Polisi membuat beberapa pertanyaan dan menemukan bahwa Burt sesuai dengan profil seseorang yang hilang, Gene Saunders, yang telah menghilang sebulan sebelumnya dari sebuah kota yang berjarak 2000 mil. Mrs Saunders ditelepon dan meyakinkan bahwa Burt benar suaminya. Ia melaporkan bahwa suaminya yang telah bekerja di tingkat manajemen madya di sebuah perusahaan manufaktur, tengah mengalami kesulitan di tempat kerja sebelum menghilang. Ia tidak dipromosikan dan penyelianya sangat kritis terhadap pekerjaannya. Tekanan kerja tampak mempengaruhi perilakunya di rumah.
Sebelumnya ia mudah bergaul dan bersosialisasi, lalu ia menarik diri dan mulai mengkritik istri dan anak-anaknya. Kemudian sesaat sebelum menghilang, ia berdebat keras dengan anak laki-lakinya yang berusia 18 tahun. Anaknya memanggilnya pecundang dan keluar dari rumah. Dua hari kemudian, laki-laki itu menghilang. Saat dihadapkan dengan istrinya lagi, ia mengaku tidak mengenalinya namun jelas ia tampak gugup.
Daftar Pustaka
  • Nevid, S. Jeffrey, Rathus, A. Spencer. (2000). Abnormal Psychology (In a Changing World) Fourth Edition. New Jersey : Companion Website TM (Prentice Hall)
  • Butcher, N. James, Mineka., Susan. (2008). Abnormal Psychology Core Concept. USA : Pearson
  • DSM – IV