Desy Eka Rahmawathi (9166)
  1. A. GANGGUAN IDENTITAS DISOSIATIF (DID)

Menurut DSM-IV-TR, gangguan identitas disosiatif (DID) sebelumnya disebut kepribadian ganda, gangguan (GKG) adalah gangguan disosiatif yang dramatis dimana pasien memanifestasikan dua atau lebih identitas berbeda yang dalam beberapa cara alternative dalam mengendalikan perilaku.Adajuga ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang penting yang tidak dapat dijelaskan. Setiap identitas tampak memiliki sejarah pribadi yang berbeda, citra diri dan nama meskipun ada beerapa identitas yang hanya parsial yang berbeda dan independent dari identitas lainnya.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan identitas disosiatif (DID) dapat ditegakkan bila seseorang memiliki sekurang-kurangnya dua kondisi ego yang terpisah, atau berubah dan berbeda dalam keberadaan, perasaan, dan tindakan yang satu sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang muncul serta memegang kendali pada waktu yang berbeda. Kadangkala terdapat satu kepribadian primer, dan penanganan biasanya diperuntukkan bagi kepribadian primer. Umumnya terdapat dua hingga empat kepribadian pada saat diagnosis ditegakkan, namun selama berlangsungnya terapi seringkali muncul beberapa kepribadian baru. Kesenjangan memori juga umum terjadi dan biasanya karena sekurang-kurangnya satu kepribadian tidak memiliki kontak dengan yang lain; yaitu, kepribadian A tidak memiliki memori mengenai seperti apa kepribadian B atau bahkan tidak mengetahui sedikitpun bahwa ia memiliki kepribadian lain yang berbeda.
DID biasanya berawal pada masa kanak-kanak, namun jarang didiagnosis hingga usia dewasa. Gangguan ini lebih luas dibanding gangguan disosiatif lain, dan penyembuhannya kurang menyeluruh. Gangguan ini jauh lebih sering terjadi pada perempuan disbanding laki-laki.
DID umumnya disertai sakit kepala, penyalahgunaan zat, fobia, halusinasi, upaya bunuh diri, disfungsi seksual, perilaku melukai diri sendiri, dan juga simtom-simtom disosiatif lain seperti amnesia dan depersonlisasi (Scrappo dkk, 1998).
Kriteria DSM-IV-TR untuk DID, diantaranya :
1) Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
2) Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
3) Adaketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
4) Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.
Kluft (1984b) Empat faktor untuk pengembangan kepribadian ganda yang terintegrasi, antaranya:
  1. 1. Kapasitas internal untuk memisahkan dari lingkungan seseorang. Kapasitas ini dapat berasal dari genetik.
  2. 2. Terjadinya trauma yang luar biasa, seperti pelecehan fisik atau seksual yang dilakukan oleh orang tua yang mendorong penggunaan disosiasi sebagai mekanisme pertahanan.
  3. 3. Pengembangan kepribadian seperti fenomena yang mencegah kepribadian dari diri yang kohesif.
  4. 4. Kegagalan orang lain untuk melindungi anak dari trauma lebih lanjut atau untuk memberikan pengasuhan yang dapat membantu anak bertahan dari trauma dan berkembang secara normal.
  5. B. P ERSPEKTIF

  1. 1. Teori sociocognitif
Menyatakan bahwa DID berkembang ketika orang yang sangat dibisikkan belajar untuk mengadopsi dan memberlakukan peran identitas ganda, terutama karena dokter tidak sengaja menyarankan, mengesahkan, dan memperkuat mereka karena identitas yang berbeda diarahkan untuk individu itu sendiri. Perspektif sociocognitive berpendapat bahwa hal ini tidak dilakukan dengan sengaja atau secara sadar oleh individu yang menderita, melainkan terjadi secara spontan dengan kesadaran sedikit atau tidak ada (Lilienfeld et al, 1999).
Teori Sociocognitive juga konsisten dengan bukti bahwa sebagian besar pasien DID tidak menunjukkan tanda-tanda jelas dari gangguan sebelum mereka memasuki terapi dan dengan bukti bahwa jumlah mengubah identitas sering meningkat (kadang-kadang secara dramatis) dengan waktu dalam terapi (Piper & Merskey, 2004b).
  1. 2. Sociocultural
DID, dipengaruhi oleh sejauh mana fenomena tersebut diterima atau ditoleransi baik sebagai normalatau sebagai gangguan mental sah oleh konteks budaya sekitarnya.
Memang dalam masyarakat kita sendiri, penerimaan dan toleransi DID sebagai gangguan yang sah telah sangat bervariasi dari waktu ke waktu. Namun demikian, meskipun prevalensi bervariasi, DID sekarang telah diidentifikasi pada semua kelompok ras, kelas sosial ekonomi, dan budaya di mana telah dipelajari. Sebagai contoh,di luar Amerika Utara telah ditemukan di negara-negara mulai dari Nigeria dan Ethiopia ke Turki, India, Australia, dan Karibia, untuk beberapa nama (Maldonado et al., 2002). Banyak fenomena yang terkait sering terjadi dalam berbagai bagian dunia dimana sanksi budaya lokal masuk dan kepemilikan Negara yang tidak dianggap patologis dan tidak dapat dianggap sebagai gangguan mental mungkin didiagnosis dengan gangguan disosiatif trans ( kategori diagnostic sementara dalam DSM-IV-TR).
  1. 3. Teori Behavioral
Pada teori ini menganggap bahwa disosiasi sebagai respon menghindar yang melindungi seseorang dari berbagai kejadian yang penuh stress dan ingatan akan kejadian tersebut. Karena orang yang bersangkutan tidak secara sadar mengonfrontasi kenangan menyakitkan tersebut, rasa takut yang diakibatkannya tidak dapat hilang.

  1. 4. Teori Psikoanalisis
Teori ini beranggapan bahwa berbagai kenangan traumatis dilupakan atau disosiasikan karena sifatnya yang menyakitkan adalah bahwa penelitian pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa tingkat stress yang tinggi umumnya memperkuat memori dan bukan melemahkannya (Shobe & Kihlstom, 1997). Ini merupakan suatu hal yang dapat ditemukan pada gangguan stress pasca trauma, dimana seseorang terkadang dikuasai oleh berbagai citra yang mengganggu dan berulang tentang kejadian traumatik di masa lalu.

  1. C. PREVENSI PRIMER

  1. 1. Pendekatan psikodinamik
Tradisional psikoanalisis bertujuan membantu orang dengan gangguan identitas disosiatif mengungkap dan belajar untuk mengatasi trauma anak usia dini. Wilbur (1986) menawarkan beberapa variasi pada tema dalam diskusinya pengobatan psikoanalitik orang dengan kepribadian ganda. Pertama, Wilbur menunjukkan bahwa analis dapat bekerja dengan apa pun kepribadian adalah naiknya selama sesi terapi. Setiap dan semua kepribadian dapat diminta untuk berbicara tentang kenangan dan impian mereka sebaik yang mereka bisa. Setiap dan semua kepribadian dapat yakin terapis akan membantu mereka memahami kecemasan mereka dan aman pengalaman "menghidupkan kembali" traumatik sehingga mereka dapat dibuat sadar dan mereka dapat membebaskan energi psikisterperangkap oleh mereka. Wilbur memerintahkan terapis untuk diingat bahwa kecemasan yang dialami selama sesi terapi dapat menyebabkan saklardalam kepribadian karena kepribadian alternatif yang mungkin dikembangkan sebagai sarana untuk mengatasi kecemasanintens. Namun akhirnya, pengalaman awal yang cukup dapat dibawa ke cahaya sehingga reintegrasi kepribadian menjadi mungkin.
  1. 2. Pendekatan biologi
Tidak ada obat telah dikembangkan untuk mengintegrasikan kepribadian mengubah. Namun, orang dengan kepribadian gandasering menderita kecemasan depresi, dan masalah lain yangdapat diobati dengan obat seperti antidepresan dan agen anti ansietas. Obat sepuluh, untuk menjadi yang paling mudahdiresepkan ketika kepribadian yang berbeda "setuju" dalam masalah mereka hadir-apakah anxiet, depresi, atau masalah lain(Barkin, Braun, & Klufi 1986).
Beberapa bukti menunjukkan ada selective serotonin-reuptake inhibitor seperti Prozac untuk memiliki beberapa manfaatsederhana dalam mengobati gangguan depersonalisasi (Simeonet al., 1997). Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untukmenyelidiki pendekatan biologis yang dapat membantu doktermendorong integrasi dari berbagai kepribadian.
  1. 3. Pendekatan perilaku
Teknik perilaku telah diterapkan untuk pengobatan orang dengan kepribadian ganda. Sini juga, kita yang terbatas pada studi kasus terisolasi Kohlenberg (1973), misalnya melaporkan sebuah kasus dimana reinforcers tanda (chip poker yang dapat ditukar dengan hadiah yang nyata) digunakan untuk meningkatkan frekuensi respon yang terbaik disesuaikan tiga kepribadian alternatif pada orang 51 tahun dilembagakan. Setiap kali kepribadian yang disukai dipancarkan jawaban,subjek memperoleh token dan tepukan di tangan. Selama percobaan diperkuat, kepribadian pilihan "muncul" secara signifikan lebih sering.
Selama percobaan kepunahan, namunketika penguatan dirahasiakan, kepribadian disukai turun ke tingkat respon di bawah dasar asli, dan kepribadian alternatifmenghabiskan lebih banyak waktu di tempat terbuka. Kohlenberg menyimpulkan bahwa kepribadian ganda adalah pola respons yang dipelajari yang kinerjanya terhubung dengankontinjensi penguatan. Dalam kasus kepribadian ganda, seperti dicatat oleh Spanos dan rekan-rekannya (1985), penguatan dapat mengambil bentuk perhatian ekstra dari terapis yang menganggap kasus kepribadian ganda menjadi glamor dan eksotis. Ada bukti terlalu sedikit untuk menyimpulkan bahwa orang dengan kepribadian ganda pada umumnya akan merespon penguatan selektif dari kepribadian yang paling adaptif. Bentuk Theraphy juga menimbulkan masalah etis tentang apakah atau tidak terapis memiliki hak untuk menentukan kepribadian harus selektif diperkuat.
  1. D. CONTOH KASUS
Sybil adalah seorang gadis (berusia 37 tahun-an) yang mengalami perpecahan kepribadian sejak kecil. Setelah seringkali mengalami black out / benar2 lupa atas kejadian yang telah dialami, Sybil pun berobat ke psikiater, Dr Wilbur. Dari sanalah diketahui bahwa didalam tubuh Sybil terdapat 16 “orang” yang lain yang sering “mengambil alih” tubuh Sybil sehingga Sybil mengalami black out. Mereka adalah: Clara, Helen, Marcia, Marjorie, Mary, Mike (laki-laki), Nancy Lou Ann Baldwin, Peggy Ann Baldwin, Peggy Lou Baldwin, Ruthie, Sid (laki-laki), Sybil Ann, Sybil Isabel Dorsett, Vanessa Gaile, Victoria Antoniette Shcarleu (Vicky) dan pribadi terakhir yang tak diketahui namanya.
Semua pribadiyang sama sekali tidak diketahui sybil, seolah-olah merupakan orang lain yang memakai raga sybil dan mereka ‘mengenal’ sybil dengan baik. Personal-personal itu juga memiliki usia yang berbeda-beda, hobi berbeda, Bahkan tingkat keyakinan terhadap agama yang berbeda. Pada saat diskusi dengan Dr. Wilbur, personal-personal itu sering muncul dan menyebabkan sybil bertanya kepada dokter, “apa yang telah saya lakukan?”. Personal-personal itu, dalam dialog dengan Dr Wilbur juga sering merasa kasihan kepada Sybil , yang tidak bisa marah, ceria dan bahkan menangis saat ia seharusnya melakukan sehingga mereka sesekali merasa perlu muncul ke permukaan menggantikan peran Sybil. Masing-masing personal itu benar-benar “menggantikan” peran sybil, sampai kepada hafalan perkalian, kemampuan menyanyi,seni menggambar dlsb sehingga membuat orang2 disekitarnya merasa heran kenapa Sybil yang kemarin begitu hafal perkalian, ceria, tenang dan cerdas dan tanpa sebab mendadak melupakan semuanya dan menjadi seorang pemurung atau seseorang yang pemarah atau bahkan kekanak-kanakan .
Setelah Sybil ,yang kehadirannya diwakili oleh personal yang lain, menjalani psikoanalisa oleh Dr Wilbur, ditemukanlah trigger-trigger mengapa kepribadiannya pecah. Sybil mendapat siksaan yang luar biasa dari sang ibu , yang mengidap schizoprenia, sejak kecil tanpa pencegahan dari sang ayah sedikitpun. Hal itu, secara tidak langsung membuat sybil tidak mampu mengungkapkan kemarahan, kesedihan dan emosinya. Selain itu, nilai2 yang dianut secara ketat oleh orangtua sybil, namun kadang dinafikkan secara vulgar dihadapan sybil juga menjadi salah satu pemicu munculnya personal-personal lain dalam dirinya, personal-personal yang tidak terima akan penerimaan sybil terhadap lingkungan yang menekan dan mengabaikan dirinya.
Akhirnya setelah 11 tahun melakukan psikoanalisa, Dr. Wilbur berusaha menyamakan usia seluruh personal melalui hipnotis dan berusaha meyakinkan sybil untuk memenuhi keinginan-keinginan masing2 personal. Seperti kenyataan bahwa sybil sangat membenci ibunya yang telah menyiksanya, yang dinafikkan oleh Sybil karena norma mengatakan bahwa seorang anak tidak boleh membenci ibunya. Dan Sybil yang sebelumnya tidak bisa marah, tidak bisa menangis pun akhirnya bisa mengungkapkan emosi-emosinya. Hal ini pun berhasil membuat personal-personal lain untuk menerima kondisi sybil, seperti Vicky yang sebelumnya selalu berharap ibunya akan datang menjemputnya dari Paris, akhirnya mengakui bahwa Hattie Dorsett / Ibu Sybil adalah ibunya juga. Perlahan-lahan, trauma-trauma lain dibuka dan pada akhirnya Sybil pun berhasil mengungkapkan emosinya dan berhasil menolak penekanan-penekanan terhadap dirinya. Dan seiring waktu berlalu, semakin banyak personal yang menyatukan diri sebagai Sybil sehingga Sybil pun menjadi Sybil yang satu.
SUMBER :
Butcher,James N;mineka,Susan;Hooley,Jill M.2008.Abnormal Psychology core concepts.Pearson education Inc. New York.
Nevid, Jeffrey S;Rathus Spencer A;Greene, Beverly.2000.Abnormal Psychology.4th edition.Prentice Hall. New Jersey.
Davison, Gerald C;Neale,John M;Kring,Ann M.Abnormal Psychology.9th edition


=IN st�2'oP?���2.0pt; line-height:150%;font-family:"Times New Roman","serif"'>

SUMBER :
  1. 1. PSIKOLOGI ABNORMAL ( edisi ke 9), oleh Gerald C Davidson, John M Neale, Ann M Kring.
  2. 2. ABNORMAL PSYCHOLOGY CORE CONCEPTS, oleh James N Butcher, Susan Mineka, Jill M Hooley.