Putri Yuliani (9153)

Definisi
Fobia sosila adalah ketakutan menetap dan tidak rasional yang umumnya berkaitan dengan keberadaan orang lain. Fobia ini dapat sangat merusak, sedemikian parah sehingga angka bunuh diri pada orang-orang yang menderita fobia ini jauh lebih tinggi disbanding pada mereka yang menderita gangguan anxietas lain (Schneier dkk., 1992).
Fobia sosial (atau gangguan kecemasan sosial), dalam DSMIV-TR dijelaskan mengenai hal itu, yang ditandai dengan menonaktifkan ketakutansatu atau lebih situasi sosial tertentu (seperti berbicara didepan publik, buang air kecil di kamar mandi umum, atau makan atau menulis di depan umum, lihat table DSM - IV - TR). Dalam situasi ini, seseorang mengalami ketakutan bahwa ia mungkin terkena

pengawasan dan evaluasi negatif dari orang lain. Individu yang menderita fobia social biasanya mencoba menghindari situasi dimana ia mungkin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berprilaku secara memalukan. Ketakutan yang ditunjukan dengan keringat yang berlebihan atau memerahnya waja. Berbicara atau melakukan sesuatu didepan public, makan ditempat umum, menggunakan toilet umum atau hamir semua aktifitas lain yang dilakukan ditempat yang terdapat orang lain dapat menimbulkan kecemasan ekstrim, bahkan serangan panic besar-besaran.
Orang-orang yang menderita fobia social sering kali bekerja dalam pekerjaan atau profesi yang jauh dibawah kemampuan atau kecerdasan mereka karena sensitivitas social ekstrim yang mereka alami jauh melebihi apa yang kita pikirkan tentang rasa malu sangat merugikan secar emosional. Lebih baik mengerjakan pekerjaan bergaji rendah dari pada setiap hari berhadapan dengan ornang lain dalam pekerjaan yang lebih baik. Diagnosis fobia sosial sangat umum dan terjadi bahkan pada artis terkenal seperti Barbra Streisand dan Carly Simon. Survei-Nasional Komorbiditas Replikasi diperkirakan bahwa sekitar 12% penduduk akan memenuhi syarat untuk diagnosis fobia sosial di beberapa

titik dalam hidup mereka, (Kessler, Berglund, 2005b;. Tillfors, 2004); gangguan ini lebih banyak pada wanita dibandingkan pria (sekitar 60 persen adalah perempuan). Tidak seperti fobia spesifik, yang sering terjadi pada masa kanak-kanak, fobia sosial biasanya mulai terjadi, selama masa remaja atau dewasa awal (Tillfors, 2004; Wells & • Clark, 1997).
G ejala-gejala
v Palpitasi jantung
v Banyak mengeluarkan keringat
v Gemetaran
v Panas-dingin
v Pusing
v Gangguan perut
v Kerongkonganterasa tersekat
v Diare
v Otot menjadi tegang
v Gelisah
Etiologi Fobia
Teori Psikososial
Freud adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan secara sistematis perkembangan perilaku fobik. Menurut freud, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan kesuatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Dengan menghindarnya seseorang dapat menghindar dari konflik-konflik yang ditekan. Fobia adalah cara ego untuk menghindari konfrontasi dengan masalah yang sebenarnya, yang itu konflik masa kecil yang ditekan.
Berdasarkan teori fobia lain dari psikoanalisis yang diajukan oleh Arieti (1979), sesuatu yang ditekan merupakan masalah interpersonal tertentu dimasa kecil dan bukan suatu impuls id. Arieti berteori bahwa pada masa kanak-kanak, orang-orang yang menderita fobia pada awalnya menjalani periode tanpa dosa dimana mereka mempercayai orang lain disekitar mereka untuk melindungi mereka dari bahaya. Kemudian mereka menjadi takut bahwa orang dewasa, terutama orang tua, tidak dapat diandalkan. Mereka tidak dapat hidup dengan ketiadaan rasa percaya tersebut, atau rasa takut kepada orang lain. Untuk dapat kembali mempercayai orang lain, secara tidak sadar mereka mengubah rasa takut padaorang lain tersebut menjadi rasa takut pada objek atau situasi yang tidak menyenangkan. Fobia muncul kepermukaan ketika, pada masa dewasa, seseorang mengalami beberapa bentuk stres. Sebagaimana sebagian besar teori psikoanalisis, bukti-bukti yang mendukung pandangan ini sebagian besar terbatas pada kesimpulan yang ditarik dari laporan-laporan khusus klinis.

Teori Behavioral
Teori behavioral berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia. Beberapa tipe pembelajaran mungkin berperan.
Avoidance Conditioning. Penjelasan utama behavioral tentang fobia adalah reaksi semacam itu merupakan respon avoidance yang dipelajari. Formulasi avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer (1947) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pemebelajaran yang saling berkaitan
  1. 1. Melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral (CS) jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara intrinsik menyakitkan atau menakutkan (UCS).
  2. 2. seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari atau menghindari CS. Jenis pembelajaran yang kedua ini diasumsikan sebagai operant conditioning respon dipertahankan oleh konsekuensi mengurangi kekuatan yang menguatkan.
Kemungkinan solusi lain untuk memecahkan teka-teki fobia yang terjadi tanpa keterpaparan dengan UCS yang menakutkan adalah menggunakan modeling.
Modeling. Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalaman yang tidak menyenangkan dengannya, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Dengan demikian, beberapa fobia dapat terjadi melalui modeling.bukan melalui pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap objek atau situasi yang ditakuti. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious learning.
Vicarious learning juga dapat terjadi melalui instruksi verbal, yaitu reaksi fobik dapat dipelajari melalui deskripsi yang diberikan orang lain tentang apa yang mungkin terjadi selain melalui observasi terhadap ketakutan orang lain. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari orang tua dapat berulangkali memperingati anaknya agar tidak melakukan beberapa aktifitas yang membahayakan.
Secara ringkas, data yang telah kita kaji menunjukan bahwa beberapa fobia mungkin dipelajari melalui avoidance conditioning. Namun, avoidance conditioning tidak dapat dianggap sebagai teori yang sepenuhnya dapat dibenarkan. Sebagai contoh, seperti disebutkan sebelumnya bahwa orang yang menderita fobia menuturkan bahwa mereka tidak pernah terpapar langsung dengan kejadian traumatis atau dengan model yang menakutkan (Merckelbach dkk., 1989). Terlebih lagi model avoidance conditioning memiliki kesulitan menangani komobiditas diantara berbagai jenis fobia.
Teori Kognitif
Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berpikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap.
Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan ini, rasa takut yang menetap dan fakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak irasional bagi mereka yang mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulus dihindari sehingga tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tesebut (Amir. Foa, & Coles,1998)

Biologis
Faktor-faktor biologis yang memengaruhi. Beberapa teori yang telah kita bahas terutama melihat pada lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia menetap. Namun, mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistik, sedangkan yang lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajran yang sama? Mungkin mereka yang secara negatif sangat terpengaruh oleh stres memiliki malfungsi biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu teradinya fobia stelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut tampaknya menjadikan : Sistem saraf otonom dan faktor genetik.
v Sistem syaraf otonom. Seperti disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami fobia sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan didepan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem syaraf otonom, aktifitas sistem syaraf otonom yang berlebihan kemungkinan merupakan suatu diathesis. Namun demikaian, sebgian besar bukti tidak menunjukan bahwa orang-orang yang menderita fobia sangat berbeda dalam pengendalian berbagai bentuk aktifitas otonomik, walaupun saat berada dalam situasi seperti berbicara didepan umumyang diharapkan akan terjadi perbedaan. Mungkin ketakutan terhadap memerahnya wajah atau berkeringat sama pentingnya dengan wajah yang benar-benar memerah atau berkeringat.
Kriteria DSM IV
Kriteria untuk Fobia Sosial
  1. a. Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipacu oleh objek atau situasi
  2. b. Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
  3. c. Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistik
  4. d. Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens.




Perspektif
Faktor biologis
v Predisposisi genetik
v analisispedigree/silsilah keluarga
v Iregularitas fungsi neurotransmitter
v Abnormalitas dalam jalur otak

Faktor sosial-lingkungan
v Pemaparan terhadap peristiwa yang mengancam/traumatis
v Mengamati respon takut pada orang lain
v Kurangnya dukungan social

Prevensi
Fobia social dapat dicegah dengan cara memberikan pola asuh yang dapt menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian pada anak sehingga anak mampu beradaptasi dan membina hubungan social yang baik dengan orang lain.
Terapi Fobia
Pendekatan Psikoanalisis
Seperti halnya psikoanalisis yang memiliki banyak variasi, demikian juga dengan terapi psikoanalisis. Walupun demikian, secara umum semua penangnanan psikoanalisis terhadap fobia berupaya mengungkap konflik-konflik yang ditekan yang diasumsikan mendasari ketakutan ekstrim dan karakteristik penghindaran dalam gangguan ini. Karena fobia dianggap sebagai simtom dari konflik-konflik yang ada dibaliknya, fobia biasnya tidak secara langsung ditangani. Memang, upaya langsung untuk menghindari orang yang bersangkutan dari berbagai konflik yang ditekan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Dalam berbagai kombinasi analisis menggunakan berbagai teknik yang dikembangkan dalam tradisi psikoanalsis dalam membantu mengangkat represi. Dalam asosiasi bebas analisis mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang disebutkan pasien terkait dengan setiap rujukan mengenai fobia. Analisis juga berupaya untuk menemukan berbagai petunjuk terhadap penyebab fobia yag ditekan dalam isi mimpi yang tampak jelas.

Pendekatan Behavioral
Desensitisasi sistematik merupakan terapi behavioral utama yang pertama kali digunakan secara luas untuk menangani fobia. (Wolpe, 1958). Individu yang menderita fobia membayangkan serangkaian situasi yang semakin menakutkan sementara berada dalam kondisi relaksasi mendalam. Bukti-bukti klinis dan ekperimental mengindikasi bahwa teknik ini efektif untuk menghapuskan atau minimal mengurangi fobia.
Flooding adalah teknik terapeutik dimana klien dipaparkan dengan sumber fobia dalam intensitas penuh. Rasa tidak nyaman ekstrim menjadi bagian tak terhindarkan dalam prosedur ini sehingga belum lama ini cenderung menahan trapis untuk menggunakan teknik ini, kecuali mungkin sebagai jalan terakhir bila pemaparan secara bertingkat tidak membuahkan hasil.
Pendekatan biologis
Obat-obatan yang mengurangi kecemasan disebut sebagai sedatif, tranquilizer, atau anxiolytic (akhiran lytic berasal dari bahasa yunani yang berarti ” melonggarkan atau melelahkan”). Barbiturate adalah kategori obat-obatan utama yang pertama kali digunakan untuk menangani gangguan anxietis, namun karena kategori obat-obatan tersebut menyebabkan ketergantungan yang tinggi dan beresiko mematikan bila overdosis. Pada tahun 1950 obat-obatan tersebut diganti dengan dua kelompok obat-obatan lain, propanediol (a,l., Miltown) dan benzodiazepline (a,l., Valium dan Xanax). Jenis yang kedua dewasa ini digunakan secar luas dan sebagaiman akan kita lihat nanti memberikan manfaat bagi beberapa gangguan axieties. Namun demikian, jenis tersebut tidak banyak digunakan bagi fobia spesifik. Terlebih tinggi, walupun resiko mematikan dalam kondisi overdosis tidak sebesar barbiturate, benzodiazepine, menyebabkan ketergantungan fisisk dan sindrom putus zat diri yang parah.

Contoh Kasus
Seorang pasien (wanita) Ny.B.M. (usia 32th) dikonsul ke poliklinik Psikiatri dengan keluhan jantung berdebar-debar, keringat dingin, perut mulas, dan pusing. Keluhan ini telah berlangsung sejak 3 tahun yang lalu. Sehari sebelumnya pasien pingsan tak sadarkan diri. Dari auto dan alloanamnesis (dari suami pasien), didapatkan hal-hal sebagai berikut : keluhan utama/alasan berobat/alasan perawatan, pasien pingsan tak sadarkan diri pada saat akan berpidato di depan undangan, saat pelantikan pasien sebagai Kepala Bagian. Pasien dibawa ke institusi gawat darurat. Setelah tenang, disarankan untuk konsultasi ke poliklinik Psikiatri. Dari anamnnesy diperoleh kesan pasien tidak akan mengikuti kegiatan bila harus berhadapan pada situasi publik (sosial) lainnya. Selalu dalam pikirannya sudah tersedia jawaban bahwa “saya tidak bisa dan akan malu-maluin“. Pada pertemuan khusus, misalnya resepsi perkawinan yang mengharuskan pasien bersama suaminya pergi ke tempat tersebut, selalu tersedia jawaban, lebih baik saya “ tinggal di rumah, kasihan anakanak tidak mempunyai teman.“ guna menolak ajakan.
Deskripsi umum menunjukkan, pasien tampak gelisah, mengeluh dadanya sakit, kesemutan yang menjalar ke lengan kiri, deg-degan, pusing, keringat dingin dan mual. Sikap terhadap pemeriksa: koperatif, pembicaraan lancar, tingkah laku motorik dalam batas normal. Tidak diketemukan tanda-tanda psikopatologis lainnya, dalam proses pikir, alam perasaan, tingkah laku motorik, persepsi, sensorium dan kognisi, orientasi, daya ingat, dan konsentrasi. Daya menilai realitas: baik. Penghayatan terhadap penyakit : tingkat V (intelektual). Pasien mengeluh dadanya sakit, disertai nyeri yang menjalar pada
daerah lengan kiri yang berasal dari daerah dada, dan untuk menyikirkan kelainan gangguan kardiovaskular pasien dikonsulkan ke dokter ahli jantung. Dilakukan pemeriksaan elektrokardiograf dan tidak didapatkan kelainan elektrokardiogram
(EKG). Dan pemeriksaan echocardiography, menunjukkan hasil sebagai berikut, dimensi ruang: ruang jantung normal. Left ventricle (LV): tebal normal. Fungsi sistolik : baik, normokinetik, semua segmen dan katub-katub jantung: normal. Diagnostic impression dari pada jantung: Fungsional normal dan tidak tampak gangguan kinetik. Karena ada keluhan mulas, pasiendikonsulkan ke bagian penyakit dalam, namun tidak
didapatkan kelainan yang signifikan. Kesan pemeriksaan psikiatris: fobia sosial
Sumber
v Psikologi Abnormal (Gerald C. Davison; John M. Neale; AN M. Kring) Edisi 9
v Abnormal Psychology core concepts james n. butcher susan mineka jill m. hooley, 2008 pearson education USA