Obsessive-Compulsive Disorder

MOCHAMAD YOGI (7124)

TINJAUAN TEORITIS
Sebagian besar diantara kita memiliki pikiran yang tidak dikehendaki dari waktu ke waktu dan sebagian besar diantara kita memiliki dorongan pada saat ini atau kelak untuk melakukan perilaku tertentu yang memalukan atau bahkan berbahaya. Namun, hanya sedikit diantara kita yang menderita gangguan obsessif kompulsif ( OCD ), suatu gangguan kecemasan dimana pikiran dipenuhi dengan pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan dan individu dipaksa untuk terus menerus mengulang tindakan tertentu, menyebabkan distress yang signifikan dan mengganggu pemungsiaan sehari-hari.
Obsesi adalah pikiran, impuls, dan citra yang mengganggu dan berulang yang muncul dengan sendirinya serta tidak dapat dikendalikan walaupun demikian biasanya tidak selalu tampak irasional bagi individu yang mengalaminya. Secara klinis, obsesi yang paling banyak terjadi berkaitan dengan ketakutan akan kontaminasi , ketakutan mengekspresikan impuls seksual atau agresif dan ketakutan hipokondrial akan disfungsi tubuh. (jenike, Baer & Minichiello, 1986). Obsesi juga dapat berupa keragu-raguan ekstrem, prokrastinasi dan ketidaktegasan.
Kompulsif adalah perilaku atau tindakan mental repetitive yang mana seseorang merasa didorong untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh pikiran-pikiran obsesif. Aktifitas-aktifitas tersebut tidak berhubungan dengan secara realitas dengan tujuan yang ada atau jelas berlebihan. Individu yang terus menerus mengulang beberapa tindakan takut terhadap konsekuensi mengerikan yang terjadi jika tindakan tersebut tidak dilakukan. Frekuensi pengulangan suatu tindakan, fisik atau mental dapat luar biasa tinggi. kompulsi yang umum dilaporkan mencakup hal-hal berikut :
  • Mengupayakan kebersihan dan keteraturan, kadang kala melalui upacara rumit yang memakan waktu berjam-jam dan bahkan sepanjang hari.
  • Menghindari objek tertentu, seperti menghindari segala sesuatu yang berwarna coklat.
  • Melakukan praktik-praktik repetitive, magis, dan protektif, seperti menghitung mengucapkan angka tertentu atau menyentuh semacam jimat atau bagian tubuh tertentu.
  • Mengecek beberapa kali untuk memastikan bahwa tindakan yang telah dilakukan benar-benar telah dilakukan, misal memastikan kembali pintu telah terkunci.
  • Melakukan tindakan tertentu seperti makan dengan sangat lambat.
Dalam beberapa hal pikiran obsesif sama dengan kekhawatiran yang menjadi cirri gangguan kecemasan menyeluruh. Gangguan ini penuh “bagaimana jika kekhawatiran berulang yang berlebihan tentang kemungkinan terjadinya peristiwa negative yang tidak mungkin. Perbedaan diantara kedua gangguan diantara kedua gangguan tersebut biasanya adalah para penderita OCD mengalami kekhawatiran mereka sebagai “ego alien” atau “ego distonik” yaitu mereka menganggap pikiran tersebut sebagai sesuatu yang dimasukan dari luar diri dan sangat tidak masuk akal. Menurut stern & cob (1978) menemukan bahwa sampel individu kompulsi memandang ritual mereka sebagai “cukup bodoh atau aneh” walaupun mereka tidak mampu menghentikannya. Konsekuensi yang sering terjadi pada gangguan OCD adalah efek negative terhadap hubungan dengan orang lain, terutama dengan anggota keluarga.
Menurut buku pedoman PPGDJ – III, gangguan obsesif kompulsif harus mencakup hal-hal berikut :
ü Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri.
ü Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan meskipun ada hal lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
ü Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasaan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau kecemasan, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas).
ü Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).
Kriteria DSM IV-TR untuk gangguan Obsesif Kompulsif ( OCD )
  • Obsesi, pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan.
  • Kompulsi, perilaku dan tindakan mental repetitive yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan ketegangan.
Teori Psikoanalisa
Dalam teori ini, obsesi dan kompulsi dipandang sebagai hal yang sama, yang disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual dan agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras. Yang bersangkutan kemudian terfiksasi pada tahap anal. Symptom-simptom yang muncul dianggap mencerminkan hasil perjuangan antara id dan defense mechanism. Kadangkala insting agresif id mendominasi, kadangkala mekanisme pertahanan yang mendominasi. Namun demikian lebih sering symptom-simptom yang muncul mencerminkan bekerjanya salah satu mekanisme pertahan yang hanya separuh berhasil. Sebagai contoh, seseorang yang terfiksasi pada tahap anal melalui formasi reaksi menahan dorongan untuk berkotor-kotor dan secara kompulsif menjadi bersih, rapi dan teratur.
Struktur Kepribadian
Terdiri dari tiga sistem atau aspek, yaitu : ID, EGO dan SUPER EGO. Mereka berinteraksi begitu erat satu sama lain sehingga sulit (tidak mungkin) untuk memisahkan pengaruhnya, dan menilai sumbangan relatifnya terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku hampir selalu merupakan produk dari interaksi diantara ke-3 sistem tersebut.
  1. a. ID
Komponen kepribadian yang paling primitive. Terletak di ketidaksadaran, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan realitas, oleh karena id bekerja dengan cara pleasure principle. Id bagian dari kepribadian yang mengubah insting-insting biologis menjadi fantasi, yaitu representasi mental dari insting. Dari hasil kerja id muncullah berbagai hasrat dan dorongan (drive) dasar yang kemudian menggerakan tingkah laku. Dua dasar dorongan yang utama adalah dorongan seksual dan agresi. Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai kenikmatan itu Id mempunyai 2 cara atau alat proses yaitu :
1. Tindakan refleks; reaksi otomatis & bawaan seperti mengedip, bersin untuk menghadapi bentuk-bentuk rangsang yang sederhana.
2. Proses primer; membentuk khayalan tentang objek yang dapat menghilangkan tegangan tersebut. ( wishfulfillment ) pemenuhan hasrat, misalkan : halusinasi, orang lapar membayangkan makanan.
Jelas bahwa proses primer itu sendiri tidak akan mampu mereduksi tegangan sepenuhnya. Karena itu suatu proses psikologis baru atau sekunder berkembang yaitu Ego, mulai terbentuk.
  1. b. EGO
Struktur kepribadian yang bersentuhan langsung dengan realitas. Fungsi ego yang utama adalah mengatur interaksi antara dunia internal individu dengan realitas eksternal. Menjembatani agar interaksi antara realitas internal dengan realitas eksternal berjalan dengan mulus. Untuk melaksanakan tugasnya, ego memiliki tiga fungsi utama yaitu, reality testing, identity dan defense mechanism.
Reality Testing
Reality testing adalah kemampuan ego yang utama, yaitu kemampuan untuk dapat mempersepsikan realitas dan kemudian menyesuaikan diri sedemikian rupa agar menguasai realitas tersebut. Kepribadian yang sehat ditandai dengan kemampuan yang baik mempersepsikan dan menyesuaikan diri dengan realitas.
Identity
Identitas adalah fondasi kepribadian. Identitas terbentuk sejak awal kehidupan, mengalami krisis dimasa remaja dan terus berkembang dalam perjalanan kehidupan selanjutnya. Pembentukan identitas terjadi melalui interaksi individu dengan orang-orang yang penting dalam kehidupannya (khususnya orang tua dan anggota keluarga). Individu mengenal dirinya sendiri sehingga memiliki ego boundaries, yaitu batasan yang jelas mengenai dirinya dan mana yang bukan dirinya. Dari batasan tersebut terbentuklah a sense of “ I – ness “ (rasa ke-aku-an) yang menjadi dasar dari self.
Identitas memiliki peranan yang sangat krusial dalam relasi individu dengan dunia dan orang lain. Orang yang memiliki identitas yang jelas dan mantap akan mampu mengorientasikan diri dengan akurat dan mengembangkan berbagai aspirasi yang wajar dengan dunianya dan orang lain.
Defense Mechanism
Mekanisme psikis untuk pertahanan diri. Dengan demikian, fungsi utamanya adalah mempertahankan diri dalam menghadapi realitas eksternal yang penuh tantangan. Kepribadian adalah suatu dialektika atau negosiasi antara dunia internal individu dengan dunia eksternal. Defense Mechanism, upaya diri atau kepribadian untuk menjaga keseimbangan dan kelangsungan dialektika tersebut. bila realitas eksternal dirasakan menuntut terlalu banyak, melebihi kapasitas diri untuk mengatasinya, maka kepribadian akan mengaktifkan Defense Mechanism untuk menyeimbangkannya. Begitupun, hasrat-hasrat dan dorongan dorongan dalam diri terlalu kuat dan bila diikuti akan mengancam keharmonisan relasi individu dengan realitas eksternal maka defens mechanism akan diaktifkan untuk meredamnya. Bila individu menggunakan Defense Mechanism secara efektif dan sesuai dengan tahap perkembangan yang sedang dijalaninya maka dikatakan bahwa individu menggunakan Defense Mechanism yang matang.
  1. c. SUPER EGO
Struktur kepribadian yang mewakili nilai-nilai eksternal. Fungsinya adalah untuk mendorong individu untuk mematuhi nilai-nilai yang berlaku direalitas eksternal, sehingga menghindari konflik antara individu dengan realitas eksternal. Ego berasal dari internalisasi figure orang tua kedalam diri ( reward-punishment ). Fungsi utamanya adalah sebagai conscience dan sebagai ego ideal.
Faktor Biologis ( Neuroscience )
Encefalitis, cedera kepala, dan tumor otak diasosiasikan dengan terjadinya gangguan obsesif-kompulsif (Jenike,1986). Ketertarikan difokuskan pada dua area otak yang dapat terpengaruh oleh trauma semacam itu, yaitu lobus frontalis dan ganglia basalis, serangkaian nuklei sub-kortikal termasuk caudate, putamen, globus pallidus, dan amygdala. Studi pemindaian dengan PET menunjukkan peningkatan aktivasi pada lobus frontalis pasien OCD, mungkin mencerminkan kekhawatiran mereka yang berlebihan terhadap pikiran mereka sendiri. Untuk memberikan bukti yang mendukung pentingnya dua bagian otak yang telah disebutkan sebelumnya, Rauch dkk.(1994) menstimulasi simptom-simptom OCD dengan memberikan stimuli yang dipilih secara khusus pada para pasien, seperti sarung tangan kotor oleh sampah atau pintu tidak terkunci. Aliran darah di otak meningkat pada daerah frontalis dan beberapa daaerah ganglia basalis. Para pasien penderita OCD juga ditemukan memiliki putamen yang lebih kecil dibanding kelompok kontrol. (Rosenberg dkk,1997).
Salah satu penjelasan yang mungkin adalah ocd disebabkan oleh suatu sistem neurotransmitter yang berpasangan dengan serotonin. Bila dipengaruhi oleh antidepresan, sistem serotonin menyebabkan perubahan pada sistem lain tersebut, yang merupakan lokasi sebenarnya dari efek terapeutik (Barr dkk., 1994). Dopamin asetikolin diperkirakan merupakan transmitter yang berpasangan dengan serotonin memiliki peran yang lebih penting dalam GOK ( Rauch & Jenike., 1993)

Faktor Biopsikokultural
Dengan gangguan obsesif kompulsif menjadi lebih mungkin terkena hal serupa pada anggota keluarga tingkat pertama daripada kelompok kontrol yang tidak mempunyai gangguan ini. Studi serupa pada dewasa menyatakan bahwa gejala obsesif kompulsif yang heriditer dengan faktor genetic, 27-47% dari score varian dari pengukuran gejala obsesif kompulsif. 53-73% dari varian dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada studi gangguan obsesif kompulsif pada anak-anak, faktor genetic terhitung 45-65% dari varian. Tidak ada perbedaan jenis kelamin pada faktor herediter. Meskipun begitu hubungan keluarga dapatmenjadi faktor yang kuat pada onset anak-anak dengan gangguan obsesif kompulsif daripada kasus dengan gangguan yang berkembang dikemudian hari.Genom pertama yang luas dihubungkan dari gangguan obsesif kompulsif yang sekarang diteliti oleh Internasional Obsesif Compulsif Foundation Genetic Collaborative. Studi ini mengembangkan lebih lanjut informasi mengenai kelainan genetic pada gangguan ini
RANCANGAN INTERVENSI

Terapi Psikoanalisis
Mirip dengan untuk pobia dan kecemasan, yaitu mengangkat represi dan memberi jalan pada pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena pikiran yang mengganggu dan perilaku kompulsif melindungi ego dari konflik yang ditekan serta keduanya merupakan target yang sulit untuk intervensi terapeutik dan prosedur psikoanalisis serta psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani ini.
Salah satu pandangan psikoanalisis mengemukakan hipotesis bahwa keragu-raguan yang tampak pada sebagian besar penderita gangguan obsesif kompulsif berasal dari kebutuhan terhadap kepasttian benarnya suatu tindakan sebelum tindakan tersebut dilakukan ( salzman 1985 ). Dengan demikian, pasien harus belajjar untuk menoleransi ketidakpastian dan kecemasan yang dirasakan semua orang seiring mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang pasti atau dapat dikendalikan secara mutlak dalam hidup. Focus akhir dalam terapi tetap berupa insight atas berbagai penyebab simtom yang tidak disadari.
Pendekatan Behavioral (Pemaparan dan Pencegahan Ritual)
Dipelopori di Inggris oleh Victor meyer (1966), mengkombinasikan pemaparan dengan pencegahan respons (ERP) (ranchman & hodgson, 1980). Pendekatan tersebut baru-baru ini berganit nama yaitu pemaparan dan pencegahan ritual untuk menggarisbawahi keyakinan magis yang dimiliki para penderita OCD bahwa perilaku kompulsif mereka akan mencegah terjadinya hal-hal yang menakutkan. Dalam metode ini (flooding) seseorang memaparkan dirinya pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif seperti memegang piring kotor kemudian menghindari untuk tidak melakukan ritual yang biasanya dilakukannya yaitu mencuci tangan. Asumsinya adalah bahwa ritual tersebut merupakan penguatan negative karena mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh suatu stimulus atau peristiwa dalam lingkungan, seperti debu di kursi. Mencegah seseorang melakukan ritual akan memaparkannya pada stimulus yang menimbulkan kecemasan hingga memungkinkan terhapusnya kecemasan tersebut. kadangkala pemaparan dan pencegahan ritual ini dilakukan melalui imajinasi terutama jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara nyata, contohnya bila seseorang percaya bahwa ia akan terbakar dineraka jika gagal melakukan ritual tertentu.

Terapi Perilaku Rasional Emotif
Membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala sesuatu mutlak harus berjalan seperti yang mereka inginkan atau bahwa segala tindakan yang mereka lakukan harus mutlak memberikan hasil sempurna. Teori kognitif beck juga dapat bermanfaat (van open dkk., 1955). Dalam pendekatan ini pasien didorong untuk menguji kekuatan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika mereka tidak melakukan ritual kompulsif. Bagian yang tak terpisahkan dalam terapi kognitif semacam itu adalah pemaparan dan pencegahan respons (atau ritual) karena untuk mengevaluasi apakah tidak melakukan ritual kompulsif akan memberikan konsekuensi yang mengerikan, pasien harus menahan diri untuk tidak melakukan ritual tersebut.
Penanganan Biologis
Obat-obatan yang meningkatkan level serotonin seperti SSRI dan beberapa tricyclic merupakan penanganan biologis yang paling sering diberikan kepada pasien dengan gangguan obsesif- kompulsif. Kedua kelompok obat-obatan tersebut telah memberikan hasil yang menguntungkan walaupun perlu dicatat bahwa suatu kajian terhadap penanganan farmakologis oleh dua psikiater merendahkan pentingnya ERP sebagai pendekatan baris pertama (rauch & jenike, 1998). Beberapa studi menemukan antidepresan tricyclic kurang efektif dibandingkan ERP (balkom dkk., 1994). Suatu studi terhadap depresan menunjukan perbaikan dalam ritual kompulsif hanya pada pasien OCD yang juga menderita depresi (marks dkk., 1980). Dalam studi lain anti depresan tricyclic bagi OCD ternyata hanya berjangka pendek. Diatas segalanya gambaran mengenai efektivitas antidepresan tricyclic tidak pasti. Semua obat anti depresan memiliki efek samping yang tidak mendorong sebagian orang untuk tetap menggunakannya, beberapa contoh termasuk rasa mual, insomnia, agitasi, mengganggu keberfungsian seksual dan bahkan beberapa efek negative bagi jantung dan sistem peredaran darah (rauch & jenike., 1998).
Peningkatan teknologi dalam pengukuran berbagai aspek aktivitas otak mendorong para peneliti untuk mencari perubahan otak yang disebabkan oleh intervensi terapeutik. Salah satu studi membandingkan fluoxetine (Prozac) dengan pemaparan yang nyata plus pencegahan respons dan mengemukakan bahwa perbaikan kondisi OCD yang dihasilkan oleh kedua terapi tersebut diasosiasikan dengan perubahan yang sama dalam fungsi otak, yaitu berkurangnya aktivitas metabolic dalam caudate nucleus kanan dimana aktifitas yang berlebihan dikaitkan dengan OCD (baxter dkk., 1992). Hanya para pasien secara klinis mengalami perbaikan kondisi menunjukan perubahan aktifitas otak tersebut sebagaimana terukur oleh pemindaian PET. Penemuan semacam itu menunjukan bahwa berbagai terapi yang benar-benar berbeda dapat berhasil karena alas an yang sama, karena berbagai terapi tersebut menggunakan cara yang berbeda untuk mempengaruhi factor-faktor yang sama pada otak.

As_good_as_it_gets_poster.jpg
Resensi FilmAs Good as its Get
menceritakan kisah kehidupan Mr. Melvin Udall (Jack Nicholson) yang menderita gangguan obsesi-kompulsif. Mr. Udall dikenal sebagai orang yang tidak disenangi oleh orang di sekitarnya karena perilakunya yang kasar, tidak ramah, egois dan senang membuat orang lain susah.
Sebagai penderita gangguan obsesi-kompulsif, Mr. Udall memiliki berbagai ritualitas, salah satunya yaitu makan di restoran yang sama, dengan tempat duduk yang sama, pada jam yang sama, dan dilayani oleh pramusaji yang sama pula, yaitu Carol (Helent Hunt).
Kehidupan dalam ritualitas obsesi-kompulsifnya mulai berubah ketika tetangganya, Simon (Greek Kinnear) yang juga seorang seniman mengalami musibah. Simon menjadi korban perampokan dan penganiyaan sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit. Anjing Simon yang bernama verdell terpaksa harus dititipkan kepada orang lain. Oleh karena tidak ada yang mau memelihara anjing itu untuk sementara waktu akhirnya manager Simon memaksa Mr. Udell untuk memeliharanya. Pada awalnya Mr. Udall tidak menyukai verdell, namun seiring dengan waktu akhirnya Mr. Udall sangat akrab dengan verdell. Bahkan anjing itu lebih memilih Mr. Udall daripada pemiliknya sendiri yaitu Simon.

Suatu hari ritualitasnya terganggu ketika Carol tidak masuk melayani Mr. Udall makan di restoran itu seperti biasanya. Keterikatannya membuat Mr. Udall mencari tahu penyebab ketidakhadiran Carol. Perasaan cinta dan ketertarikannya yang tidak disadari Mr. Udall pada Carol membuat ia tergugah untuk menolong masalah yang dialami Carol dengan membiayai seluruh pengobatan anak Carol.
Carol pun sangat berterima kasih dengan hal itu meskipun sebenarnya ia tidak menyenangi sifat – sifat Mr. Udall. Di lain pihak Mr. Udall juga kasihan dengan Simon, tetangganya yang mengalami kebangkrutan dan kesepian. Tawaran manager Simon untuk mengantarkan Simon ke kota asalnya agar Simon bisa meminta uang kepada orang tuanya, diterima oleh Mr. Udall dengan motif untuk bisa berdekatan dengan Carol yang ikut dalam perjalanan itu. Pada awalnya Mr. Udall senang karena semua berjalan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkannya. Namun kedekatan Carol dengan Simon membuat Mr. Udall tidak bisa mengelak bahwa dia mencintai Carol.
Akhir kisah ini yaitu Mr. Udall memberanikan dirinya untuk membuat suatu perubahan kecil dan keluar dari ritualitasnya dengan mengatakan kebaikan orang lain demi cintanya pada Carol. Dalam film ini ditunjukkan bagaimana cinta dan kedekatan dengan orang lain dapat mengubah perilaku seseorang sekalipun ia menderita gangguan obsesi-kompulsif yang parah.